Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Krisis bahan bakar (BBM) yang melanda sejumlah wilayah di Rusia mulai berdampak pada sektor pertanian. Para petani di kawasan penghasil gandum mengkhawatirkan proses panen karena kesulitan memperoleh pasokan solar dan bensin.
Kelangkaan BBM dipicu oleh serangkaian serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak dan fasilitas penyimpanan bahan bakar Rusia. Serangan tersebut merupakan bagian dari upaya Kyiv untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow dengan menargetkan infrastruktur energi.
Gangguan distribusi BBM terjadi di berbagai wilayah Rusia meskipun negara itu merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Kondisi tersebut memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar, sementara masyarakat saling berbagi informasi melalui media sosial mengenai SPBU yang masih memiliki stok.
Di media sosial juga beredar berbagai video yang menggambarkan dampak kelangkaan tersebut, mulai dari perselisihan antar-pengendara saat mengantre hingga candaan mengenai mahalnya bensin. Data pencarian internet bahkan menunjukkan peningkatan signifikan terhadap pencarian cara memindahkan bahan bakar dari satu tangki ke tangki lainnya.
Baca Juga: Dolar Stabil Jelang Data Tenaga Kerja AS Kamis (2/7), Pasar Waspadai Intervensi Yen
Situasi ini menjadi sorotan karena selama ini Rusia juga secara rutin menyerang infrastruktur energi Ukraina sejak invasi dimulai pada 2022. Kini, dampak konflik tersebut semakin dirasakan oleh masyarakat Rusia sendiri.
Sejumlah unggahan di media sosial menunjukkan petani di kawasan Black Earth mengalami kesulitan memperoleh BBM untuk mengoperasikan mesin panen. Ada pula laporan mengenai petani yang terpaksa membawa mesin kombain ke SPBU umum setelah tidak diizinkan mengisi jeriken. Namun, laporan-laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui adanya persoalan pasokan BBM dan berjanji pemerintah akan mengambil langkah untuk menstabilkan pasar. Ia menegaskan bahwa ketersediaan bahan bakar bagi sektor pertanian menjadi prioritas karena keberhasilan musim panen sangat bergantung pada pasokan energi.
Wakil Perdana Menteri Alexander Novak juga menyatakan pemerintah tengah menangani persoalan tersebut. Di saat yang sama, Rusia mulai mengimpor bensin melalui jalur laut dari India, sementara Kazakhstan sepakat memasok sekitar 50.000 ton bahan bakar selama Juli hingga Agustus untuk membantu memenuhi kebutuhan domestik.
Di luar persoalan energi, survei terbaru menunjukkan tingkat pesimisme masyarakat Rusia terhadap kondisi ekonomi berada pada level tertinggi dalam dua dekade terakhir.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Ambles Hampir 8% Kamis (2/7), Saham Samsung dan SK Hynix Rontok
Kelangkaan BBM juga mulai memengaruhi layanan publik. Di wilayah Zabaikalsky yang berbatasan dengan China dan Mongolia, beberapa rute bus dihentikan sementara dan layanan pengangkutan sampah di sejumlah distrik ikut terhenti akibat keterbatasan bahan bakar.
Warga pun mengkhawatirkan dampak lanjutan terhadap harga kebutuhan pokok karena sebagian besar distribusi logistik di Rusia masih mengandalkan transportasi darat.
Apabila serangan terhadap infrastruktur energi terus berlangsung dan pasokan BBM belum kembali normal, tekanan terhadap kehidupan masyarakat Rusia diperkirakan akan meningkat. Kondisi tersebut berpotensi mengikis dukungan publik terhadap perang yang telah berlangsung sejak Februari 2022 dan kini memasuki tahun kelima.
Di salah satu SPBU di Kota Rostov-on-Don, antrean kendaraan untuk membeli bensin dilaporkan mengular. Seorang warga mengaku bersyukur kendaraannya menggunakan solar karena antrean kendaraan berbahan bakar bensin jauh lebih panjang, bahkan ia mulai mempertimbangkan berjalan kaki ke tempat kerja apabila situasi tidak kunjung membaik.














