Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON. Krisis politik di Inggris kian memanas dan mulai mengguncang pasar keuangan. Investor dibuat cemas setelah Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham, figur sayap kiri Partai Buruh, membuka jalan untuk kembali ke parlemen dan berpotensi menantang Perdana Menteri Keir Starmer.
Kekhawatiran pasar langsung tercermin dari lonjakan biaya pinjaman pemerintah Inggris ke level tertinggi dalam hampir tiga dekade. Di saat bersamaan, nilai tukar poundsterling melemah tajam dan saham-saham perbankan Inggris tertekan.
Situasi ini memperdalam ketidakpastian politik di Inggris yang dalam satu dekade terakhir sudah mengalami pergantian enam perdana menteri sejak Brexit.
Tekanan terhadap Starmer meningkat setelah pekan ini diwarnai konflik internal Partai Buruh. Salah satu tokoh penting pemerintah mengundurkan diri sambil menuding Starmer tidak memiliki visi kepemimpinan yang jelas.
Baca Juga: Laba Uniqlo Pecah Rekor, Meski Krisis Timur Tengah Guncang Pasar
Sejumlah tokoh lain juga mulai mengambil posisi untuk kemungkinan perebutan kepemimpinan partai.
Starmer sendiri menegaskan akan tetap bertahan sebagai perdana menteri. Namun, ia tidak akan menghalangi Burnham jika ingin maju ke parlemen sebagai syarat untuk mencalonkan diri dalam perebutan kursi pimpinan Partai Buruh.
Di sisi lain, mantan Menteri Kesehatan Wes Streeting yang mundur dari kabinet disebut-sebut juga berpeluang maju melawan Starmer. Namun, Streeting dikabarkan masih menunggu kepastian langkah Burnham menuju parlemen.
Kondisi ini membuat pemerintahan Inggris berpotensi mengalami kelumpuhan politik selama berminggu-minggu, di tengah tekanan ekonomi global akibat perang Iran dan Ukraina.
Krisis politik Inggris bahkan menarik perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump mengkritik Starmer terkait isu imigrasi dan kebijakan energi Inggris.
Baca Juga: Jose Jeri Lengser, Krisis Politik Peru Berlanjut Jelang Pemilu April 2026
“Ini situasi yang sulit kecuali dia bisa membereskan masalah imigrasi dan mulai meningkatkan pengeboran energi,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One. Meski demikian, Trump menegaskan dirinya tidak secara langsung meminta Starmer mundur.
Di tengah tekanan politik tersebut, pasar keuangan Inggris bergerak negatif. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun melonjak ke sekitar 5,845%, level tertinggi sejak 1998. Kenaikan yield menunjukkan investor meminta premi risiko lebih tinggi untuk memegang surat utang Inggris.
Yield obligasi tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi sejak krisis keuangan global 2008.
Poundsterling tercatat melemah sekitar 2% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini dan menyentuh level terendah dalam lima minggu terakhir. Saham perbankan seperti Barclays dan Lloyds juga turun sekitar 3%, sementara indeks saham Inggris terkoreksi sekitar 1,7%.
Pasar khawatir jika kubu kiri Partai Buruh semakin dominan. Burnham bersama sejumlah tokoh seperti Angela Rayner dikenal mendukung peran negara yang lebih besar di sektor-sektor strategis, perlindungan pekerja yang lebih kuat, serta peningkatan pajak untuk belanja publik.
Meski demikian, jalan Burnham menuju parlemen masih panjang dan tidak mudah. Mantan menteri era pemerintahan Gordon Brown itu harus terlebih dahulu memenangkan pencalonan dari Partai Buruh untuk kursi parlemen yang kosong.
Baca Juga: Profil Peter Mandelson, Eks Dubes Inggris untuk AS yang Tersandung Kasus Epstein
Setelah itu, Burnham masih harus menghadapi persaingan ketat dari partai populis Reform UK yang dipimpin Nigel Farage serta Partai Hijau dalam pemilihan sela.
Tantangan Burnham semakin berat karena dukungan terhadap Partai Buruh terus melemah dalam berbagai survei. Reform UK justru tampil kuat dalam pemilu lokal pekan lalu dan menjadi pemenang terbesar di sejumlah wilayah, termasuk daerah basis Buruh.
Meski tekanan terhadap Starmer semakin besar, loyalis pemerintah meminta Partai Buruh menghentikan konflik internal dan fokus menjalankan pemerintahan.
Menteri Perumahan Inggris Steve Reed mengatakan partainya perlu kembali fokus pada kepentingan publik setelah “pekan yang buruk” bagi pemerintahan Starmer.
Baca Juga: Investor Waspada! Kemenangan Takaichi Guncang Pasar, Pajak Konsumsi Jadi Taruhan
Hingga kini belum ada kandidat yang secara resmi mengumpulkan dukungan minimum untuk memulai pemilihan pemimpin Partai Buruh. Namun pasar tampaknya mulai bersiap menghadapi potensi pergantian kepemimpinan yang bisa memperpanjang ketidakpastian ekonomi dan politik Inggris.













