Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - ANKARA. Para pemimpin negara anggota NATO akan berkumpul di Ankara, Turki, pada Selasa-Rabu (7-8/7/2026) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang diperkirakan menjadi salah satu pertemuan paling krusial bagi masa depan aliansi pertahanan Barat.
Sorotan utama pertemuan kali ini adalah dorongan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan sekaligus mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas keamanan kawasan.
Desakan tersebut muncul setelah berbulan-bulan hubungan transatlantik diwarnai ketegangan, mulai dari perang Iran hingga polemik Greenland.
Baca Juga: Veteran NATO Murka, Trump Dinilai Meremehkan Pengorbanan Sekutu di Afghanistan
Ketidakpastian juga meningkat setelah Trump berulang kali mengkritik NATO, mengumumkan penarikan sebagian pasukan AS dari Eropa, serta memulai evaluasi selama enam bulan terhadap kehadiran militer AS di benua tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin NATO diperkirakan membahas percepatan pencapaian target belanja pertahanan, peningkatan kapasitas industri pertahanan, hingga strategi mengalihkan sebagian beban pertahanan Eropa dari AS kepada negara-negara sekutu di kawasan.
Para pemimpin Eropa juga akan berupaya meyakinkan Trump bahwa mereka memenuhi komitmen yang disepakati pada KTT NATO di Den Haag tahun lalu, yakni meningkatkan belanja pertahanan dan sektor terkait hingga setara 5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2035.
Dalam rancangan deklarasi yang diperoleh Reuters, para pemimpin NATO menyatakan investasi negara-negara anggota Eropa dan Kanada untuk kebutuhan pertahanan inti meningkat lebih dari US$ 139 miliar sepanjang 2025.
Mereka juga akan menegaskan komitmen membangun NATO yang lebih modern dengan pembagian tanggung jawab yang lebih besar dari negara-negara Eropa dan Kanada, tetap bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Baca Juga: Presiden Korea Selatan Akan Hadiri KTT NATO di Ankara dan Mengunjungi Mongolia
Selain isu pembiayaan pertahanan, dukungan terhadap Ukraina juga menjadi agenda penting. Negara-negara anggota NATO diperkirakan kembali menegaskan komitmen membantu Kyiv menghadapi invasi Rusia.
Untuk 2026, aliansi tersebut diproyeksikan menjanjikan bantuan militer, pelatihan, dan perlengkapan pertahanan senilai 70 miliar euro. NATO juga berkomitmen mempertahankan tingkat dukungan yang setidaknya sama pada 2027.
Pendanaan tersebut sebagian besar berasal dari komitmen bilateral negara anggota serta fasilitas pinjaman Uni Eropa senilai 60 miliar euro untuk investasi dan pengadaan alat pertahanan Ukraina selama 2026-2027.
Amerika Serikat diperkirakan tidak akan ikut memberikan pendanaan dalam skema tersebut.
Di sisi industri, NATO ingin menjadikan KTT tahun ini sebagai momentum mempercepat produksi senjata dan inovasi teknologi pertahanan.
Aliansi itu akan menggelar forum industri pertahanan di Ankara yang diperkirakan menghasilkan kontrak bernilai puluhan miliar dolar AS.
Perang Iran juga diperkirakan menjadi salah satu isu yang dibahas. Dalam rancangan deklarasi, para pemimpin NATO akan menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menyerukan agar Teheran menghormati kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: NATO Klaim Eropa Keluar dari Ketergantungan Militer AS, Genjot Bujet 5% dari PDB
Sebagai tuan rumah, Turki memanfaatkan KTT ini untuk menonjolkan perkembangan industri pertahanannya sekaligus kembali meminta seluruh anggota NATO menghapus berbagai pembatasan perdagangan produk pertahanan di dalam aliansi.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga dijadwalkan menggelar pertemuan bilateral dengan Trump.
Dalam pembicaraan tersebut, Erdogan diperkirakan akan mendorong pencabutan sanksi AS terhadap Turki serta membuka kembali akses Ankara ke program pesawat tempur F-35.
Turki juga ingin mempercepat kerja sama dengan Prancis dan Italia, termasuk pengadaan sistem pertahanan rudal SAMP/T.
KTT NATO di Ankara akan dihadiri para pemimpin dari 32 negara anggota, termasuk Donald Trump.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam bersama para pemimpin NATO.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump ke Eropa Batal, Ada Apa di Balik Greenland?
Di sela-sela KTT, para menteri luar negeri NATO juga akan bertemu dengan mitra dari Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, serta menggelar diskusi bersama Menteri Luar Negeri Ukraina dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas.
Sementara itu, para menteri pertahanan NATO akan mengadakan pertemuan dengan mitra dari Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan guna memperkuat kerja sama keamanan di kawasan Indo-Pasifik.














