Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - LONDON. Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang meragukan peran pasukan NATO di Afghanistan memicu kecaman keras dari para veteran dan politisi Eropa.
Mereka menilai Trump telah melewati batas dengan meremehkan pengorbanan sekutu Amerika Serikat dalam perang selama dua dekade tersebut.
Dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (22/1/2026), Trump menyebut Amerika Serikat tidak pernah membutuhkan NATO dan menuding negara-negara sekutu cenderung menjauh dari garis depan pertempuran di Afghanistan.
Pernyataan itu langsung dibantah para veteran NATO yang menegaskan ratusan tentara Eropa gugur saat bertempur bersama pasukan AS.
Baca Juga: AS Desak Eropa Ambil Alih Pertahanan NATO pada 2027, Eropa Anggap Tidak Realistis
Pensiunan jenderal Polandia Roman Polko, mantan komandan pasukan khusus yang pernah bertugas di Afghanistan dan Irak, menyebut pernyataan Trump sebagai pelanggaran serius.
“Kami menuntut permintaan maaf. Kami membayar aliansi ini dengan darah. Banyak dari kami mengorbankan nyawa,” ujarnya.
Kritik juga datang dari Inggris. Menteri Urusan Veteran Inggris, Alistair Carns, yang pernah menjalani lima kali penugasan termasuk di Afghanistan, menyebut klaim Trump sangat tidak masuk akal.
Ia menegaskan pasukan sekutu berjuang dan berkorban bersama, dan tidak semua prajurit bisa kembali ke tanah air.
Kantor Perdana Menteri Inggris menyatakan Trump keliru karena meremehkan peran pasukan NATO dalam perang Afghanistan. Mantan Kepala Intelijen Inggris (MI6), Richard Moore, juga menegaskan eratnya kerja sama berisiko tinggi antara personel intelijen Inggris dan CIA di lapangan.
Para politisi Eropa turut bereaksi. Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz menegaskan pengorbanan negaranya tidak boleh dilupakan atau diperkecil.
Baca Juga: Trump Ancam Spanyol dengan Tarif Dagang karena Tolak Naikkan Anggaran Pertahanan
Sementara pemimpin Partai Demokrat Liberal Inggris, Ed Davey, mengkritik Trump yang pernah menghindari wajib militer era Perang Vietnam, namun kini mempertanyakan pengorbanan tentara sekutu.
Dari Denmark, anggota parlemen oposisi Rasmus Jarlov menyebut pernyataan Trump sebagai bentuk ketidaktahuan, sementara Menteri Pertahanan Inggris John Healey menegaskan solidaritas NATO telah menjadi sandaran Amerika Serikat, dan prajurit Inggris yang gugur harus dikenang sebagai pahlawan.
NATO sendiri berdiri atas prinsip pertahanan kolektif melalui Pasal 5, yang menyatakan serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Pasal ini hanya sekali diaktifkan, yakni setelah serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, yang kemudian diikuti misi militer NATO ke Afghanistan.
Baca Juga: NATO Ketar-ketir, Waspadai Peningkatan Kerja Sama Militer China dan Rusia
Data Departemen Pertahanan AS mencatat sekitar 2.460 tentara Amerika tewas di Afghanistan. Dari pihak sekutu, Inggris kehilangan 457 personel militer, Kanada lebih dari 150 tentara, Prancis sekitar 90 personel, dan Denmark 44 tentara — salah satu tingkat korban tertinggi NATO jika dihitung per kapita.













