Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (21/1/2026) menarik kembali ancaman penerapan tarif dan menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer dalam sengketa Greenland.
Trump menyatakan bahwa kerangka kesepakatan dengan Denmark dan para sekutu NATO telah tercapai, meredakan ketegangan yang sebelumnya berpotensi memicu keretakan hubungan transatlantik terbesar dalam beberapa dekade.
Baca Juga: Produk AS Terancam! Eropa Berani Lawan Trump, Batalkan Pembahasan Dagang
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di sela kunjungannya ke World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
Sikap ini menandai perubahan signifikan setelah berminggu-minggu retorika keras terkait rencana penerapan tarif sebagai tekanan untuk memperkuat pengaruh AS atas Greenland, wilayah semi-otonom di bawah kedaulatan Denmark.
Trump mengatakan negara-negara Barat di kawasan Arktik kini mengarah pada kesepakatan baru yang dapat mengakomodasi kepentingan keamanan AS, termasuk pengembangan sistem pertahanan rudal “Golden Dome” serta akses terhadap mineral kritis, sekaligus membendung ambisi Rusia dan China di kawasan tersebut.
“Ini adalah kesepakatan yang membuat semua pihak sangat puas. Kesepakatan jangka panjang, bahkan bisa dibilang kesepakatan selamanya, terutama terkait keamanan dan mineral,” ujar Trump kepada wartawan usai bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Baca Juga: Media Resmi Iran: 3.117 Orang Tewas dalam Aksi Protes
Seorang juru bicara NATO menyatakan bahwa tujuh negara anggota NATO di kawasan Arktik akan bekerja sama untuk memastikan keamanan kolektif.
Negosiasi lanjutan antara Denmark, Greenland, dan AS akan difokuskan untuk memastikan Rusia dan China tidak memperoleh pijakan ekonomi maupun militer di Greenland.
Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa AS dan NATO telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan kawasan Arktik secara keseluruhan.
Berdasarkan kesepahaman tersebut, Trump memastikan tarif yang sebelumnya dijadwalkan berlaku pada 1 Februari tidak akan diterapkan.
Pemerintah Denmark menegaskan bahwa isu Greenland harus diselesaikan melalui diplomasi tertutup, bukan melalui pernyataan publik di media sosial.
Baca Juga: Perseteruan O’Leary dengan Elon Musk Justru Picu Lonjakan Pemesanan Tiket Raynair
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan Denmark serta hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri.
Trump juga mengungkapkan bahwa Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan utusan khusus Steve Witkoff telah ditugaskan untuk melanjutkan pembahasan teknis kesepakatan tersebut.
Sebelumnya, Trump mengakui bahwa pasar keuangan merasa tidak nyaman dengan ancaman tarif yang ia lontarkan.
Ia kembali menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak menjadi pilihan. “Saya tidak ingin menggunakan kekuatan, dan saya tidak akan menggunakannya,” kata Trump.
Baca Juga: Ambisi Trump Kuasai Greenland Bayangi Agenda Davos, Picu Ketegangan Sekutu NATO
Perubahan sikap Trump ini langsung disambut positif oleh pasar. Indeks S&P 500 menguat sekitar 1,2%, memperpanjang pemulihan setelah pasar saham AS mengalami aksi jual terbesar dalam tiga bulan terakhir.
Sejumlah sekutu NATO sebelumnya menyatakan kekhawatiran atas pernyataan Trump terkait Greenland.
Namun, langkah mundur ini kembali menegaskan pola kepemimpinan Trump yang kerap melontarkan ancaman keras sebelum akhirnya melunakkan atau menariknya kembali.













