kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Lempeng rawan runtuh, Australia terancam tsunami


Jumat, 21 Desember 2012 / 14:48 WIB
ILUSTRASI. Rencana penerapan PPN menjadi tambahan beban sekolah dan orang tua murid. KONTAN/Fransiskus Simbolon


Sumber: Theaustralian.com | Editor: Asnil Amri

CANBERRA. Sebuah lempengan benua yang berukuran besar yang berada di dasar laut di dekat Great Barrier Reef diketahui rawan runtuh. Para ilmuwan memproyeksikan, jika lempeng itu runtuh, bisa memicu air pasang atau tsunami di wilayah Australia.

James Cook, Geologi laut dari Australia University menyebutkan, dengan menggunakan sistem pemetaan tiga dimensi (3D), di bagian terdalam Great Barrier Reef ditemukan banyak lembah dasar laut.

Sejak tahun 2007, Cook mengaku menemukan adanya puluhan lembah dalam lempengan tersebut. Pada perjalanan yang terbaru, Cook menemukan adanya satu kubik kilometer lempengan dasar laut sisa longsor masa lampau. Longsor lempeng itu menyebabkan pergeseran benua.

“Longsor di dasar laut itu dipahami sebagai proses geologi, tetapi kami tidak mengetahui terjadi di Barrier Reef," kata Robin Beaman, yang juga pakar geologi.

Menurut Beaman, Ia menemukan satu blok besar yang menonjol yang ada diatas ngarai di dalam laut yang menunggu keruntuhan.

Sayangnya, Beaman tidak bisa mengetahui kapan lempengan itu runtuh. "Apakah besok atau kapanpun bisa terjadi,” kata Beaman. Ia berharap agar orang menyadari bahwa ada ancaman tsunami jika lempengan itu runtuh

Menurutunya, jika lempengan itu runtuh, ibarat batu masuk ke dalam cekungan yang bisa memicu cipratan air. "Ini akan menghasilkan tsunami lokal yang akan mempengaruhi garis pantai Queensland, yaitu sekitar 70 kilometer jauhnya,” jelas Beaman.

"Kami tak bermaksud membuat warga resah, kami hanya ingin mengetahui lempeng itu masih ada di sana dan apa yang akan terjadi jika lempeng itu runtuh," Beaman menegaskan.

Penemuan Bemaan dipublikasikan dalam jurnal Natural Hazard yang ditulis imuwan saat mereka berada di atas kapal penelitian Southern Surveyor.




TERBARU

[X]
×