Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mendorong negara-negara anggota G20 untuk kembali fokus pada upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Menurut Bessent, sejumlah hambatan seperti regulasi berlebihan, sistem pajak yang kurang tepat, minimnya investasi hingga kesenjangan keterampilan tenaga kerja masih menahan potensi pertumbuhan global.
Pesan tersebut disampaikan Bessent dalam pembukaan diskusi G20 Meeting: Finance Ministers and Central Bank Governors Ministerial yang berlangsung 31 Agustus 2026 di Asheville, Carolina Utara, Amerika Serikat.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi global selama ini masih berada di bawah potensinya, baik di negara-negara G20 maupun di luar kelompok tersebut.
Baca Juga: Menkeu AS Serukan The Fed Agar Pangkas Suku Bunga, Ini Alasannya
"Banyak kekuatan yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, namun kegagalan kebijakan yang kita buat sendiri tidak boleh lagi menjadi salah satunya," ujar Bessent dalam sambutannya yang disiarkan langsung di kanal resmi The Fed.
Menurut Bessent, jalur keuangan G20 telah mengidentifikasi sejumlah hambatan terhadap pertumbuhan. Selain beban regulasi dan administratif, hambatan tersebut mencakup insentif keuangan dan sistem pajak yang dirancang kurang baik, investasi publik dan swasta yang belum mencukupi, fragmentasi pasar internal, serta kesenjangan keterampilan dan mobilitas tenaga kerja.
AS Pangkas Regulasi
Menkeu Bessent mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tengah melakukan penataan ulang regulasi secara besar-besaran untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mendorong investasi, meningkatkan lapangan kerja dan menaikkan upah.
Ia menyoroti kebijakan deregulasi yang diterapkan pemerintahan Trump sejak awal masa jabatan. Pemerintah AS sebelumnya menetapkan target memangkas 10 regulasi yang ada sebelum menerbitkan satu regulasi baru.
Menurut Bessent, lembaga-lembaga pemerintah AS bahkan berhasil melampaui target tersebut. Pada tahun lalu, rasio pemangkasan regulasi terhadap penerbitan regulasi baru mencapai 129 banding satu.
Baca Juga: Hubungan AS-Taiwan Disebut Makin Kuat, Investasi Chip Capai US$265 miliar
Bessent mengatakan kebijakan tersebut mulai tercermin dalam peningkatan investasi bisnis.
Selain deregulasi, pemerintah AS juga berfokus pada kepastian kebijakan pajak dan energi. Bessent juga menyebut kepastian pajak, kepastian energi dan kepastian regulasi sebagai faktor penting untuk mendorong fase pertumbuhan ekonomi berikutnya.
"Kami juga telah menjadikan AS sebagai tujuan utama aliran modal dunia dan merebut kembali posisi kami sebagai negara adidaya energi dunia," katanya.
Bessent berharap reformasi yang dilakukan AS dapat menjadi bagian dari upaya bersama negara-negara G20 untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Produktivitas Jadi Kunci
Dalam kesempatan yang sama, Ketua The Fed Kevin Warsh menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari sisi permintaan. Menurutnya, perhatian juga perlu diberikan pada sisi penawaran, khususnya potensi pertumbuhan dan produktivitas.
Ia mengatakan konsumsi dan pola belanja masyarakat memang menjadi bagian penting dalam membaca kondisi ekonomi. Namun, bank sentral juga perlu memahami bagaimana kapasitas produksi perekonomian berkembang.
"Pertumbuhan juga merupakan sebuah pilihan," ujar Warsh .
Baca Juga: AS Siap Luncurkan Sistem Pengembalian (Refund) Tarif Mulai 20 April 2026, Apa Itu?
Menurut Warsh , keputusan yang menentukan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dibuat oleh pemerintah dan bank sentral. Dunia usaha, perusahaan, bank hingga perusahaan teknologi juga memiliki peran penting melalui keputusan investasi dan aktivitas bisnis mereka.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika perekonomian sedang mengalami perubahan dan transformasi.
"Pertanyaan kunci yang harus kita ajukan adalah apa potensi pertumbuhan yang mendasarinya, khususnya apa yang terjadi pada produktivitas," katanya.
Proyeksi Pertumbuhan AS 1,8%
Pada kesempatan itu Warsh juga menyoroti proyeksi Congressional Budget Office (CBO) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS dalam 10 tahun ke depan berada di sekitar 1,8% per tahun.
Proyeksi tersebut, menurut Warsh, mencerminkan ekspektasi yang relatif lemah terhadap pertumbuhan produktivitas. Angka itu juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi aktual AS dalam 10 tahun terakhir.
Karena itu, ia mempertanyakan apakah pertumbuhan 1,8% memang merupakan potensi yang realistis bagi ekonomi AS selama satu dekade mendatang.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah belanja modal atau capital expenditure (capex). Warsh mempertanyakan apakah peningkatan belanja modal yang tengah terjadi dapat mendorong produktivitas lebih tinggi dan apakah peningkatan tersebut mampu dipertahankan dalam jangka panjang.
Persoalan ini dinilai penting bukan hanya untuk kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga untuk menentukan arah kebijakan ekonomi berikutnya.
Bagi para bankir sentral, kemampuan meningkatkan produktivitas menjadi salah satu kunci dalam menentukan potensi pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, tantangan G20 bukan sekadar mendorong permintaan dan konsumsi, tetapi juga memastikan investasi, teknologi, tenaga kerja dan kapasitas produksi mampu menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.














