Sumber: The Edge Malaysia | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - HSBC Global Investment Research memperkirakan penguatan ringgit pada 2026 akan terbatas. Hal ini dipengaruhi oleh arus keluar portofolio serta kewajiban yang timbul dari kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Malaysia.
Mengutip The Edge Malaysia, di bawah perjanjian perdagangan timbal balik AS–Malaysia, Malaysia diwajibkan meningkatkan impor dari AS sekaligus menambah investasi di negara tersebut.
Hal ini disampaikan Kepala Riset Valuta Asing Asia HSBC, Joey Chew, dalam sebuah webinar outlook pada Senin (19/1/2026).
“Ada proses daur ulang alami dari arus dana masuk yang selama ini diterima Malaysia dan masih terus berlanjut,” ujar Chew.
Menurutnya, kondisi tersebut akan menjadi faktor penekan bagi pergerakan ringgit.
Chew juga menambahkan bahwa kekhawatiran terhadap daya saing ekspor Malaysia berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang tersebut.
Baca Juga: Investasi Buntung, Perusahaan Warren Buffett Lepas Saham Kraft Heinz
Meski menghadapi sejumlah tantangan, HSBC menilai ringgit masih akan mendapat penopang dari repatriasi pendapatan luar negeri oleh perusahaan-perusahaan milik negara atau government-linked companies (GLC).
“Stabilisasi atau perbaikan moderat harga komoditas akan membantu kinerja GLC dan mendorong upaya repatriasi tersebut,” jelasnya.
Sementara itu, Chew mencatat bahwa dolar AS diperkirakan tetap berada di bawah tekanan sepanjang 2026. Namun, pelemahannya diprediksi berlangsung lebih bertahap dibandingkan tahun lalu.
Tonton: Balas Trump Soal Greenland, UE Siapkan Tarif Balasan Rp 1,8 Kuadriliun
Secara keseluruhan, HSBC memproyeksikan ringgit akan melemah terhadap dolar AS ke level 4,10 pada akhir 2026, dari posisi saat ini di kisaran 4,0562.













