Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nike mengatakan pada Kamis (23/4/2026) bahwa perusahaan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.400 karyawan operasional global sebagai upaya merampingkan alur kerja, di tengah upaya raksasa apparel olahraga itu keluar dari penurunan penjualan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Mengutip Reuters, dalam memo kepada karyawan pada Kamis, Chief Operating Officer Nike Venkatesh Alagirisamy mengatakan pengurangan jumlah karyawan akan terjadi terutama di Amerika Utara dan Eropa, dan sebagian besar menyasar tim teknologi. PHK ini mencakup sedikit kurang dari 2% dari total tenaga kerja global Nike.
Saham Nike telah kehilangan lebih dari separuh nilainya dalam tiga tahun terakhir, karena pesaing yang lebih gesit seperti On, Hoka, dan Anta berhasil merebut lebih banyak ruang penjualan.
CEO Nike Elliott Hill, yang menjabat sejak 2024, berjanji akan mengembalikan fokus merek Nike pada olahraga inti seperti lari dan sepak bola, serta mempercepat peluncuran sepatu baru yang inovatif ke pasar. Namun hasilnya berjalan lambat.
Baca Juga: Saham Nike Anjlok, CEO Akui Organisasi Kelelahan Berat
Nike memperkirakan penjualan akan turun 2% hingga 4% pada kuartal berjalan. China, yang menjadi titik masalah utama Nike, diperkirakan mengalami penurunan penjualan hingga 20% dalam kuartal ini, menurut pernyataan Nike.
Menurut memo Alagirisamy, PHK ini akan membantu Nike mengintegrasikan rantai pasokan bahan baku, sepatu, dan pakaian dengan lebih baik. Nike juga akan memusatkan operasional teknologi pada dua hub utama, yakni kantor pusat di Beaverton, Oregon, serta Nike India Technology Center.
Nike juga akan memindahkan sebagian operasi manufaktur untuk merek Converse yang sedang kesulitan agar lebih dekat dengan mitra pabrik Nike, demi “lebih mendukung kebutuhan merek tersebut ke depan,” kata Alagirisamy.
Tonton: Kapal Tanker Minyak Iran Disergap Militer Amerika Serikat
Nike telah melakukan beberapa gelombang PHK dalam beberapa tahun terakhir, termasuk yang terbaru memangkas 775 pekerjaan untuk mempercepat otomatisasi.













