Nilai ekspor Singapura naik 16,1% pada bulan Juni, kabar baik di tengah krisis

Jumat, 17 Juli 2020 | 12:22 WIB Sumber: Channel News Asia
Nilai ekspor Singapura naik 16,1% pada bulan Juni, kabar baik di tengah krisis

ILUSTRASI. Pelabuhan barang Singapura


KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Ekspor domestik non-mintak (NODX) Singapura tercatat mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni sebanyak 16,1% pada bulan Juni lalu. Beberapa sektor yang mendukung antara lain obat-obatan, mesin khusus, dan elektronik.

Kenaikan ini merupakan kebalikan dari penurunan yang mereka alami selama bulan Mei, yakni sebesar 4,6%. Angka ini juga lebih tinggi dari dugaan awal sebesar 6,2% yang disampaikan para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

"Ini menandai dengan baik untuk memulai kembali mesin eknomi setelah periode 'pemutusan sirkuit'. Data NODX pada bulan Juni menunjukkan bahwa hal terburuk mungkin akan segera berakhir," ungkap Selena Ling, Kepala Penelitian dan Strategi Perbendaharaan Bank OCBC, seperti dikutip dari Channel News Asia.

Pengiriman di sektor elektronik naik 22,2% dari tahun lalu. Didukung oleh ekspor produk disk media yang naik 59,8%, perlengkapan telekomunikasi yang naik 37,8%, dan komponen sirkuit terintegrasi yang naik 29,1%.

Baca Juga: Ekonom BCA: Resesi Singapura tak akan terlalu mengguncang ekonomi Indonesia

Sementara ekspor non-elektronik yang naik 14,5% mendapat keuntungan dari permintaan emas non-moneter, mesin khusus, dan obat-obatan.

Ekspor emas non-moneter naik 238%, mesin khusus naik 45,9%, dan obat-obatan naik 30,8%.

Pengiriman ke 10 pasar ekonomi utama Singapura tumbuh secara merata pada bulan Juni. Kecuali pada Hong Kong, Indonesia, dan Thailand.

Ekspor ke Jepang jadi yang tertinggi dengan kenaikan 94,7% yang didukung oleh permintaan sektor farmasi, karet sintetis, dan komputer.

Berikutnya ada ekspor ke Korea Selatan dengan kenaikan 85,6% berkat permintaan mesin khusus, alat ukur dan komponen sirkuit terintegrasi.

Meskipun demikian, nilai NODX ke pasar negara berkembang turun 28,8%. Ekspor ke Amerika Latin mengalami penurunan paling banyak dengan 53,5%, diikuti oleh Asia Selatan dengan 39% dan Timur Tengah dengan 18,9%.

Baca Juga: Resesi ekonomi Singapura tidak berdampak langsung ke ekonomi Indonesia

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru