kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Obama dorong Trans Pacific Partnership


Rabu, 07 September 2016 / 06:05 WIB


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

HANGZHOU. Presiden Amerika Serikat Barack Obama terus mendorong keikutsertaan Amerika Serikat dalam pakta dagang yang bernama Trans Pacific Partnership (TPP). Meski begitu, Obama tidak akan memaksa negara Asia lain untuk ikut dalam keanggotaan TPP.

Menurut Obama, keputusan ini sudah tidak bisa dielakkan. Sebab memilih jalur perdagangan TPP akan lebih baik ketimbang bersikap status quo. Bagi dia, dengan ikut dalam perjanjian TPP maka Amerika Serikat tidak perlu bernegosiasi dengan para pemimpin di Asia yang merupakan anggota pakta dagang.

Meski begitu, Obama seperti dikutip Reuters meyakinkan mitra dagang Amerika Serikat di Asia tidak perlu diiming-imingi untuk ikut TPP. Meski tidak memaksa, Obama tetap akan membawa pembahasan TPP selama berkunjung di Asia termasuk kunjungannya ke Laos.

"Saya tidak harus menjual kepada para pemimpin Asia karena itu merupakan bagian dari negosiasi. Dan mereka bisa melihat mana yang benar untuk dilakukan negaranya sendiri," ujar Obama seperti dikutip Reuters.

Obama menambahkan, kebijakan yang diambil oleh AS tidak selalu berakhir mulus. Selalu ada tantangan dan kendala yang menghadang sehingga perlu dicarikan jalan keluarnya. Dalam hal ini AS terus berupaya untuk merealisasikan demi keuntungan semua pihak.

"Jalan kontroversial selalu ada untuk meratifikasi kesepakatan perdagangan walau akhirnya bisa dilakukan juga," kata Obama.

Obama yakin bisa memenangkan persetujuan Kongres AS atas pakta perdagangan sebelum melepas jabatannya. Dia juga bilang, kegagalan untuk mencapai persetujuan akan melemahkan kepemimpinan AS dan memungkinkan China menetapkan sejumlah syarat perdagangan dunia.

Sementara itu, calon Presiden AS yakni Hillary Clinton dan Donald Trump tidak sepakat dengan perjanjian ini. Sementara para pemilih juga masih ragu dengan manfaat dari TPP.

Survei yang dilakukan Pew Research Center seperti dikutip Press Herald memperkirakan, 39% pemilih menilai TPP menjadi hal yang buruk bagi Amerika Serikat. Sementara 37% menilai, TPP positif. TPP dirancang untuk mengurangi hambatan dagang termasuk tarif diantara negara-negara anggota.

Selain itu, TPP juga membentuk mekanisme penyelesaikan sengketa antar investor dengan pemerintah. Anggota TPP saat ini adalah Amerika Serikat, Australia, Brunei Darussalam, Chili, Jepang, Kanada, Malaysia, Meksiko, Peru, Selandia Baru, Singapura dan Vietnam.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×