Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran baru turun lebih besar dari perkiraan pada pekan lalu.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif tangguh meskipun ekonomi menghadapi tekanan dari inflasi dan ketidakpastian geopolitik.
Baca Juga: Inflasi Favorit The Fed Tembus 4,1% pada Mei 2026, Pengeluaran Konsumen AS Tetap Kuat
Melansir Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (25/6/2026) melaporkan bahwa klaim awal tunjangan pengangguran (initial jobless claims) turun 12.000 menjadi 215.000 klaim pada pekan yang berakhir 20 Juni 2026 setelah disesuaikan secara musiman.
Angka tersebut lebih baik dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters yang memperkirakan klaim pengangguran mencapai 225.000.
Namun demikian, para ekonom mengingatkan bahwa data pekan lalu mencakup libur nasional Juneteenth yang jatuh pada Jumat, sehingga kemungkinan turut berkontribusi terhadap penurunan klaim yang lebih besar dari perkiraan.
Selain itu, periode akhir Mei hingga Juni biasanya menjadi masa yang cukup sulit untuk dianalisis karena bertepatan dengan berakhirnya tahun ajaran sekolah.
Di sejumlah negara bagian, tenaga pendukung sekolah yang tidak mengajar diperbolehkan mengajukan tunjangan pengangguran selama masa liburan panjang.
Meski klaim pengangguran sepanjang tahun ini cenderung berada di kisaran atas rentang normal 190.000 hingga 230.000, data tersebut belum menunjukkan adanya perubahan signifikan pada kondisi pasar tenaga kerja AS.
Baca Juga: Pesanan Barang Modal Inti AS Melonjak pada Mei, Sinyalkan Investasi Bisnis Tetap Kuat
Belum Ada Gelombang PHK Besar
Laporan itu juga menunjukkan belum ada tanda-tanda perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal meskipun biaya operasional meningkat akibat dampak perang yang dipimpin AS terhadap Iran.
Namun, perusahaan masih terlihat berhati-hati dalam melakukan perekrutan tenaga kerja baru.
Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Dibuka, 20 Juta Barel Minyak Mentah Langsung Keluar dalam Sehari
Hal itu tercermin dari data continuing claims atau jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran setelah pekan pertama bantuan. Angka ini naik 21.000 menjadi 1,821 juta orang pada pekan yang berakhir 13 Juni.
Kenaikan continuing claims umumnya menjadi indikator bahwa proses pencarian kerja berlangsung lebih lama karena peluang perekrutan yang terbatas.
Tingkat pengangguran AS sendiri bertahan di level 4,3% selama tiga bulan berturut-turut.
Meski pasar tenaga kerja masih cukup kuat, lemahnya aktivitas perekrutan membuat sebagian pencari kerja harus menganggur lebih lama.
Lulusan perguruan tinggi yang baru memasuki dunia kerja juga menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mendapatkan pekerjaan tingkat awal (entry level).
Sejumlah analis menilai tren ini sebagian dipengaruhi oleh penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan untuk menggantikan sebagian pekerjaan administratif dan pemula.
Baca Juga: Pasar Barang Mewah Global Bangkit, Konsumen Muda AS Pendorong Utama!
Data pemerintah yang dirilis awal bulan ini menunjukkan median durasi pengangguran meningkat menjadi 11,6 minggu pada Mei, lebih tinggi dibandingkan 11 minggu pada April dan menjadi periode pengangguran terpanjang sejak November 2021.
Meski demikian, penurunan klaim pengangguran terbaru memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS masih mampu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan inflasi yang tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).














