kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.625   -32,00   -0,18%
  • IDX 6.674   54,62   0,83%
  • KOMPAS100 874   8,55   0,99%
  • LQ45 663   6,79   1,03%
  • ISSI 233   1,65   0,71%
  • IDX30 370   2,90   0,79%
  • IDXHIDIV20 457   2,48   0,54%
  • IDX80 100   0,98   0,99%
  • IDXV30 127   0,82   0,65%
  • IDXQ30 118   0,66   0,56%

Pasokan Minyak Dunia Terganggu, Kok Brent Belum Juga Tembus US$100?


Selasa, 08 September 2026 / 09:58 WIB
Pasokan Minyak Dunia Terganggu, Kok Brent Belum Juga Tembus US$100?
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Orhan Qereman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah Brent kembali menguat pada September 2026 di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu arus ekspor minyak melalui sejumlah jalur strategis.

Namun, harga Brent masih bertahan di bawah level psikologis US$100 per barel.

Gangguan tersebut telah memangkas pengiriman minyak mentah dari produsen Timur Tengah menjadi sekitar 11 juta barel per hari (bpd), dari sekitar 18 juta bpd sebelum perang Iran dimulai tujuh bulan lalu, menurut Argus.

Meski demikian, sejumlah faktor membuat pasar minyak belum mengalami lonjakan harga yang lebih tajam.

Baca Juga: Ekonomi Jepang Tumbuh 1,4% pada Kuartal II 2026, Lebih Tinggi dari Perkiraan Awal

Arus minyak melalui Selat Hormuz masih berlangsung

Salah satu faktor utama adalah sebagian volume minyak masih mampu melewati Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak global.

Rystad Energy mencatat, pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus, sekitar 8 juta-9 juta bpd minyak masih mengalir melalui Selat Hormuz. Angka tersebut bahkan dua kali lipat dibandingkan volume pada pekan sebelumnya.

Setelah konflik kembali meningkat, arus minyak turun menjadi kurang dari 2 juta bpd. Namun, rata-rata pergerakan harian masih berada di kisaran 4 juta-5 juta barel.

Chief Economist Rystad Energy Claudio Galimberti mengatakan, volume tersebut masih menempatkan harga Brent pada level yang dianggap wajar sekitar US$95 per barel.

Sementara itu, estimasi industri menunjukkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz masih berada di kisaran 6 juta-8 juta barel per hari.

Data Kpler juga menunjukkan tidak ada kapal tanker Very Large Crude Carrier (VLCC) yang terlihat keluar dari selat tersebut sejak 2 September.

Sebagai perbandingan, ketika kesepakatan damai sementara AS-Iran berlangsung pada Juli, ekspor minyak melalui Hormuz sempat kembali ke level sebelum perang, yakni sekitar 16 juta bpd.

Baca Juga: Harga Gandum Melonjak, Konflik Laut Hitam Kembali Ganggu Pasokan

Produsen Timur Tengah mencari jalur alternatif

Tekanan pasokan juga sedikit diredam oleh kemampuan produsen minyak Teluk untuk menggunakan jalur alternatif.

Produsen di kawasan tersebut diperkirakan terus mengirimkan kargo melalui mekanisme ship-to-ship transfer di luar Selat Hormuz untuk mengurangi dampak gangguan ekspor.

Saudi Aramco, misalnya, kembali melakukan pemuatan minyak dari pelabuhan Ras Tanura di kawasan Teluk pada Agustus.

Di sisi lain, ekspor Saudi dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah masih berada di bawah tekanan akibat blokade angkatan laut yang dilakukan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Ekspor dari Yanbu turun ke level terendah dalam enam bulan, yakni 1,429 juta bpd pada Agustus, dari rata-rata 3,9 juta bpd dalam tiga bulan sebelumnya, berdasarkan data sementara Kpler.

Namun, jalur alternatif mulai menunjukkan peningkatan. Ekspor melalui pelabuhan Sidi Kerir di Mesir mencapai 2,139 juta bpd pada Agustus, lebih dari dua kali lipat dibandingkan Juni.

Ekspor minyak Irak juga kembali meningkat menjadi sekitar 2,34 juta bpd pada Agustus.

Sementara itu, ekspor Uni Emirat Arab (UEA) berada di sekitar 2,9 juta bpd pada Juli dan Agustus. Ekspor minyak Kuwait juga pulih menjadi sekitar 1 juta bpd.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, ekspor minyak Iran turun tajam akibat blokade AS.

Baca Juga: Anthropic Batalkan Rencana Akuisisi Startup AI Decart Senilai US$6 Miliar

Produksi negara lain ikut menambah pasokan

Pasar minyak global juga mendapatkan tambahan pasokan dari produsen di luar OPEC.

Produksi AS, Kanada dan Guyana diperkirakan meningkat dengan total sekitar 1,4 juta bpd sepanjang tahun ini. Tambahan tersebut membantu menutup sebagian kekurangan pasokan dari Timur Tengah.

Rusia juga masih mempertahankan ekspor minyak mentah sekitar 5,5 juta bpd pada Juli dan Agustus.

Meski turun dari puncaknya yang mencapai 6,4 juta bpd pada Juni, angka tersebut masih 23% lebih tinggi dibandingkan Februari.

Penurunan aktivitas kilang Rusia akibat kerusakan fasilitas setelah serangan Ukraina membuat lebih banyak minyak mentah tersedia untuk ekspor.

Namun, Rusia telah memangkas proyeksi produksi minyak 2026 ke level terendah dalam 17 tahun. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ekspor Rusia ke depan.

Baca Juga: Iran Ancam Buat Zona Eksklusi di Teluk, Ketegangan dengan AS Kembali Memanas




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×