Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Pada Jumat, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang melarang pengadilan AS menyita pendapatan minyak Venezuela yang dikumpulkan dan disimpan di rekening Departemen Keuangan AS.
Perintah itu menyebutkan bahwa upaya pengadilan untuk mengakses dana tersebut akan mengganggu hubungan luar negeri AS dan stabilitas internasional.
“Presiden Trump mencegah penyitaan pendapatan minyak Venezuela yang bisa merusak upaya penting AS untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik Venezuela,” tulis Gedung Putih dalam lembar fakta.
Produksi tertekan, investasi belum tentu datang
Produksi minyak Venezuela telah terpukul selama puluhan tahun akibat kurangnya investasi, salah kelola, serta sanksi AS. Dengan produksi sekitar 1 juta barel per hari, Venezuela kini menyumbang kurang dari 1% pasokan minyak global.
Chevron, yang menyumbang sekitar seperlima produksi Venezuela, mengatakan pihaknya berencana meningkatkan produksi dengan memperluas operasi yang sudah ada. Sementara Exxon menyatakan akan mengirim tim teknis dalam beberapa pekan ke depan untuk menilai kondisi di lapangan.
Repsol, yang saat ini memproduksi sekitar 45.000 barel per hari, mengatakan melihat peluang untuk melipatgandakan hingga tiga kali produksinya di Venezuela dalam beberapa tahun ke depan jika kondisi mendukung.
Eksekutif perusahaan lain juga mengatakan janji perubahan dari Trump bisa mendorong investasi, dan mereka berharap bisa memanfaatkan momentum ini.
“Kami siap masuk ke Venezuela,” kata Bill Armstrong, pimpinan perusahaan pengeboran minyak dan gas independen. “Kalau pakai istilah properti, ini lahan kelas premium.”
Namun para analis mengingatkan bahwa meningkatkan produksi secara signifikan bukan perkara mudah.
“Mereka bersikap sopan dan mendukung, tanpa benar-benar mengeluarkan uang,” kata David Goldwyn, presiden konsultan energi Goldwyn Global Strategies dan mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional.
Menurut Goldwyn, Exxon dan Shell tidak akan menanamkan miliaran dolar, apalagi puluhan miliar dolar, tanpa jaminan keamanan fisik, kepastian hukum, dan kerangka fiskal yang kompetitif.
Tonton: Solana Menguat Tajam! SOL Berpeluang Tembus US$200 di Awal 2026
“Dari sudut pandang industri, ini sebenarnya tidak terlalu menarik. Kondisinya belum tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan kecil mungkin lebih berani masuk lebih dulu untuk membantu meningkatkan produksi dalam setahun ke depan, tetapi nilai investasinya kemungkinan hanya sekitar US$ 50 juta, jauh dari angka US$ 100 miliar yang dibayangkan Trump.
Rystad Energy memperkirakan Venezuela membutuhkan investasi baru sekitar US$ 8–9 miliar per tahun agar produksinya bisa meningkat tiga kali lipat pada 2040.
"Investasi US$ 100 miliar yang diusulkan Trump memang bisa berdampak besar terhadap produksi, jika benar-benar terwujud," kata Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti.
Namun menurutnya, perusahaan hanya akan mau berinvestasi sebesar itu jika ada subsidi besar dan stabilitas politik. Ia juga menegaskan bahwa warga Amerika tidak perlu berharap kondisi Venezuela akan segera menurunkan harga minyak.
“Akan sangat sulit melihat komitmen besar sebelum situasi politik benar-benar stabil, dan kapan itu terjadi masih menjadi tanda tanya besar,” katanya.













