Sumber: BBC | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sedikitnya US$ 100 miliar (sekitar Rp 1.600 triliun (kurs Rp 16.700) investasi di sektor minyak Venezuela. Namun, permintaan itu mendapat respons dingin di Gedung Putih, setelah salah satu eksekutif perusahaan minyak memperingatkan bahwa negara Amerika Selatan tersebut saat ini “tidak layak untuk investasi.”
Melansir BBC, para petinggi perusahaan minyak terbesar AS yang hadir dalam pertemuan itu mengakui bahwa Venezuela, dengan cadangan energi yang sangat besar, memang menawarkan peluang menarik.
Namun mereka menegaskan bahwa perubahan besar perlu dilakukan sebelum Venezuela bisa kembali menjadi tujuan investasi yang menarik. Tidak ada komitmen pendanaan besar yang langsung diumumkan.
Trump mengatakan pemerintahannya akan “melepaskan” potensi minyak Venezuela setelah pasukan AS menangkap pemimpinnya, Nicolás Maduro, dalam operasi pada 3 Januari di ibu kota negara itu.
“Salah satu keuntungan yang didapat Amerika Serikat dari ini adalah harga energi yang lebih murah,” kata Trump dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat.
Meski begitu, para bos perusahaan minyak bersikap jauh lebih hati-hati.
CEO Exxon, Darren Woods, mengatakan perusahaannya dua kali kehilangan aset di Venezuela.
“Jadi bisa dibayangkan, untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya, dibutuhkan perubahan yang sangat besar dibandingkan pengalaman kami sebelumnya dan kondisi yang ada saat ini,” ujarnya.
“Untuk sekarang, Venezuela tidak layak diinvestasikan,” tambahnya.
Baca Juga: Krisis Venezuela Guncang Asia: Mengapa China dan RI Serentak Kecam AS?
Hubungan rumit dengan perusahaan minyak asing
Hubungan Venezuela dengan perusahaan minyak internasional memang rumit sejak minyak pertama kali ditemukan di negara itu lebih dari 100 tahun lalu.
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela.
Beberapa perusahaan dari negara lain, termasuk Repsol dari Spanyol dan Eni dari Italia, yang juga hadir dalam pertemuan di Gedung Putih, masih menjalankan kegiatan di sana.
Trump menegaskan bahwa pemerintah AS yang akan menentukan perusahaan mana saja yang boleh beroperasi.
“Urusannya langsung dengan kami. Bukan dengan Venezuela sama sekali. Kami tidak ingin kalian berurusan dengan Venezuela,” kata Trump.
Gedung Putih menyatakan sedang bekerja untuk mencabut sebagian sanksi AS yang selama ini membatasi penjualan minyak Venezuela.
Para pejabat mengatakan mereka berkoordinasi dengan otoritas sementara di Venezuela, yang kini dipimpin oleh mantan wakil Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodríguez.
Baca Juga: Drone Korsel Langgar Udara Korut, Adik Kim Jong Un Tuntut Penjelasan Resmi
Namun AS juga menegaskan akan tetap mengendalikan penjualan minyak tersebut sebagai alat untuk menjaga pengaruh politik terhadap pemerintahan Rodríguez.
Pekan ini, AS menyita beberapa kapal tanker yang mengangkut minyak Venezuela yang terkena sanksi. Pejabat AS mengatakan mereka tengah menyiapkan mekanisme penjualan, di mana hasilnya akan disimpan di rekening yang dikendalikan AS.
“Kami terbuka untuk bisnis,” kata Trump.
Pada Jumat, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang melarang pengadilan AS menyita pendapatan minyak Venezuela yang dikumpulkan dan disimpan di rekening Departemen Keuangan AS.
Perintah itu menyebutkan bahwa upaya pengadilan untuk mengakses dana tersebut akan mengganggu hubungan luar negeri AS dan stabilitas internasional.
“Presiden Trump mencegah penyitaan pendapatan minyak Venezuela yang bisa merusak upaya penting AS untuk menjaga stabilitas ekonomi dan politik Venezuela,” tulis Gedung Putih dalam lembar fakta.
Produksi tertekan, investasi belum tentu datang
Produksi minyak Venezuela telah terpukul selama puluhan tahun akibat kurangnya investasi, salah kelola, serta sanksi AS. Dengan produksi sekitar 1 juta barel per hari, Venezuela kini menyumbang kurang dari 1% pasokan minyak global.
Chevron, yang menyumbang sekitar seperlima produksi Venezuela, mengatakan pihaknya berencana meningkatkan produksi dengan memperluas operasi yang sudah ada. Sementara Exxon menyatakan akan mengirim tim teknis dalam beberapa pekan ke depan untuk menilai kondisi di lapangan.
Repsol, yang saat ini memproduksi sekitar 45.000 barel per hari, mengatakan melihat peluang untuk melipatgandakan hingga tiga kali produksinya di Venezuela dalam beberapa tahun ke depan jika kondisi mendukung.
Eksekutif perusahaan lain juga mengatakan janji perubahan dari Trump bisa mendorong investasi, dan mereka berharap bisa memanfaatkan momentum ini.
“Kami siap masuk ke Venezuela,” kata Bill Armstrong, pimpinan perusahaan pengeboran minyak dan gas independen. “Kalau pakai istilah properti, ini lahan kelas premium.”
Namun para analis mengingatkan bahwa meningkatkan produksi secara signifikan bukan perkara mudah.
“Mereka bersikap sopan dan mendukung, tanpa benar-benar mengeluarkan uang,” kata David Goldwyn, presiden konsultan energi Goldwyn Global Strategies dan mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional.
Menurut Goldwyn, Exxon dan Shell tidak akan menanamkan miliaran dolar, apalagi puluhan miliar dolar, tanpa jaminan keamanan fisik, kepastian hukum, dan kerangka fiskal yang kompetitif.
Tonton: Solana Menguat Tajam! SOL Berpeluang Tembus US$200 di Awal 2026
“Dari sudut pandang industri, ini sebenarnya tidak terlalu menarik. Kondisinya belum tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan kecil mungkin lebih berani masuk lebih dulu untuk membantu meningkatkan produksi dalam setahun ke depan, tetapi nilai investasinya kemungkinan hanya sekitar US$ 50 juta, jauh dari angka US$ 100 miliar yang dibayangkan Trump.
Rystad Energy memperkirakan Venezuela membutuhkan investasi baru sekitar US$ 8–9 miliar per tahun agar produksinya bisa meningkat tiga kali lipat pada 2040.
"Investasi US$ 100 miliar yang diusulkan Trump memang bisa berdampak besar terhadap produksi, jika benar-benar terwujud," kata Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti.
Namun menurutnya, perusahaan hanya akan mau berinvestasi sebesar itu jika ada subsidi besar dan stabilitas politik. Ia juga menegaskan bahwa warga Amerika tidak perlu berharap kondisi Venezuela akan segera menurunkan harga minyak.
“Akan sangat sulit melihat komitmen besar sebelum situasi politik benar-benar stabil, dan kapan itu terjadi masih menjadi tanda tanya besar,” katanya.













