kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.083   -13,00   -0,07%
  • IDX 6.091   -39,20   -0,64%
  • KOMPAS100 796   -3,58   -0,45%
  • LQ45 607   -1,51   -0,25%
  • ISSI 210   -1,41   -0,67%
  • IDX30 341   -0,73   -0,21%
  • IDXHIDIV20 422   -0,86   -0,20%
  • IDX80 91   -0,33   -0,36%
  • IDXV30 115   -0,50   -0,43%
  • IDXQ30 109   -0,23   -0,21%

Pemilu Israel Digelar 27 Oktober 2026, Ini Peta Persaingan Netanyahu dan Penantangnya


Rabu, 29 Juli 2026 / 15:33 WIB
Pemilu Israel Digelar 27 Oktober 2026, Ini Peta Persaingan Netanyahu dan Penantangnya
ILUSTRASI. Israel dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada 27 Oktober 2026. Pemilu ini menjadi yang pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 (REUTERS/Ronen Zvulun)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Israel dijadwalkan menggelar pemilihan umum nasional pada 27 Oktober 2026. Pemilu ini menjadi yang pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan banyak warga dan mengguncang Israel, sekaligus memicu konflik berkepanjangan di Gaza, Lebanon, dan Iran.

Meski berbagai survei menunjukkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berpotensi mengalami kekalahan, sistem politik Israel yang sangat terfragmentasi membuat hasil akhir pemilu tetap sulit diprediksi. Dalam sistem tersebut, partai-partai kecil kerap menjadi penentu pembentukan pemerintahan atau kingmaker.

Survei Prediksi Netanyahu Berpotensi Kalah

Sejumlah survei terbaru menunjukkan Netanyahu berada di jalur menuju kekalahan dalam pemilu mendatang. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dinilai telah merusak citranya sebagai pemimpin yang mampu menjamin keamanan nasional.

Baca Juga: BMW Pangkas Ribuan Karyawan di Jerman Lewat Program Pengunduran Diri Sukarela

Walaupun sebagian besar masyarakat Israel mendukung operasi militer terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran, tingkat kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu tetap rendah menurut berbagai jajak pendapat.

Selain itu, kebijakan pemerintahannya terkait hubungan antara agama dan negara juga dinilai tidak populer di kalangan banyak warga Israel.

Meski demikian, Netanyahu yang merupakan perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel dikenal sebagai politikus yang sangat piawai bertahan. Hingga kini, hasil survei juga belum menunjukkan jalur yang benar-benar jelas bagi para pesaingnya untuk membentuk pemerintahan baru.

Siapa Saja Penantang Utama Netanyahu?

Beberapa tokoh diperkirakan menjadi pesaing utama Netanyahu dalam pemilu kali ini.

Gadi Eisenkot

Mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, mengalami lonjakan elektabilitas dalam berbagai survei. Eisenkot, yang kehilangan putranya dalam perang di Gaza, membangun citra sebagai sosok politik di luar lingkaran elite, berlatar belakang militer, serta memiliki reputasi kuat di bidang keamanan.

Latar belakang kehidupannya yang sederhana dan pengorbanan keluarganya selama perang menjadi kontras dengan Netanyahu yang telah puluhan tahun berada di pucuk kekuasaan dan masih dibayangi berbagai kasus dugaan korupsi.

Baca Juga: Gempa Dahsyat Guncang Jepang, Ledakan Mal di Kumamoto Tewaskan Tiga Orang

Naftali Bennett dan Yair Lapid

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan Yair Lapid kembali menjadi penantang penting. Keduanya sebelumnya membentuk aliansi lintas ideologi yang berhasil menggulingkan Netanyahu pada pemilu 2021.

Mereka kemudian membentuk pemerintahan koalisi yang terdiri dari partai-partai liberal, konservatif, serta untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel melibatkan partai Arab Islamis. Namun pemerintahan tersebut hanya mampu bertahan selama 18 bulan.

Avigdor Lieberman

Mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman juga menjadi salah satu rival utama Netanyahu. Ia pernah menjadi ajudan sekaligus sekutu dekat Netanyahu.

Lieberman yang dikenal memiliki pandangan keamanan lebih keras dibanding Netanyahu keluar dari pemerintahan pada 2018 setelah menuduh Netanyahu terlalu lunak terhadap kelompok militan Palestina di Gaza. Sejak saat itu, ia berubah menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap sang perdana menteri.

Bagaimana Sistem Pemilu Israel?

Israel menerapkan sistem parlementer. Pemilih memberikan suara untuk memilih anggota parlemen atau Knesset yang memiliki 120 kursi. Secara aturan, pemilu digelar setiap empat tahun.

Namun dalam praktiknya, sangat sedikit parlemen Israel yang mampu menyelesaikan masa jabatan penuh.

Israel sempat mengalami periode ketidakstabilan politik sejak 2019 hingga 2022 yang ditandai dengan serangkaian pemilu berulang dan pemerintahan berumur pendek. Situasi tersebut berakhir ketika Netanyahu berhasil memperoleh mayoritas parlemen dan kembali berkuasa memimpin pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.

Pemilu Oktober 2026 menjadi salah satu kasus langka ketika masa jabatan Knesset dapat diselesaikan hingga akhir periode.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok Dua Hari Beruntun, Demam AI Berubah Jadi Aksi Jual Besar

Mengapa Pemerintahan Koalisi Selalu Terbentuk?

Kursi parlemen Israel dibagikan berdasarkan sistem perwakilan proporsional kepada daftar partai nasional yang memperoleh sedikitnya 3,25% suara nasional, setara dengan empat kursi parlemen.

Sepanjang sejarah Israel, belum pernah ada satu partai pun yang berhasil memenangkan mayoritas mutlak. Karena itu, pemerintahan selalu dibentuk melalui koalisi sejumlah partai.

Konsekuensinya, partai-partai kecil memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan siapa yang menjadi perdana menteri dan berapa lama pemerintahan dapat bertahan. Ketika muncul perbedaan kepentingan, koalisi dapat dengan cepat pecah.

Selama ini Netanyahu sangat bergantung pada dukungan partai-partai Yahudi ultra-Ortodoks untuk mempertahankan kekuasaannya.

Tuntutan kelompok tersebut agar komunitas mereka sebagian besar dibebaskan dari kewajiban wajib militer menjadi salah satu isu politik paling kontroversial di Israel, terutama ketika negara itu masih berada dalam situasi perang.

Partai-Partai Utama yang Bertarung

Partai-partai politik memiliki batas waktu hingga September untuk menyerahkan daftar calon legislatif. Karena itu, peta politik masih dapat berubah dengan kemungkinan munculnya partai baru, penggabungan partai, maupun pengunduran diri peserta pemilu.

Koalisi Netanyahu saat ini terdiri atas:

  • Partai sayap kanan Likud.

  • Religious Zionism yang dipimpin Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

  • Jewish Power, partai sayap kanan ekstrem yang dipimpin Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.

Sementara itu, dua partai Yahudi ultra-Ortodoks, United Torah Judaism dan Shas, memang keluar dari pemerintahan pada 2024, tetapi tetap membantu menopang keberlangsungan koalisi Netanyahu di parlemen.

Baca Juga: Bursa Singapura Pecahkan Rekor Saat Saham Teknologi Asia Dilanda Aksi Jual

Di kubu oposisi, sejumlah partai yang berupaya menggantikan Netanyahu antara lain:

  • Yashar, partai baru yang dipimpin Gadi Eisenkot. Dalam bahasa Ibrani, Yashar berarti "jujur" atau "lurus".

  • Together, aliansi Naftali Bennett dan Yair Lapid.

  • Israel Our Home yang dipimpin Avigdor Lieberman dan memiliki basis dukungan kuat dari komunitas imigran bekas Uni Soviet.

  • Empat partai yang sebagian besar mewakili sekitar 20% populasi warga Arab Israel, yakni Hadash, Taal, Raam, dan Balad.

  • Partai kiri Democrats yang dipimpin mantan jenderal Yair Golan.

Dengan sistem politik yang mengandalkan koalisi, hasil pemilu Israel tidak hanya ditentukan oleh partai pemenang suara terbanyak, tetapi juga oleh kemampuan para pemimpin politik membangun koalisi yang mampu menguasai mayoritas kursi di parlemen. 




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×