kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.243   2,00   0,01%
  • IDX 7.187   57,27   0,80%
  • KOMPAS100 973   5,92   0,61%
  • LQ45 694   3,34   0,48%
  • ISSI 261   1,58   0,61%
  • IDX30 383   0,97   0,25%
  • IDXHIDIV20 470   -1,47   -0,31%
  • IDX80 109   0,52   0,48%
  • IDXV30 137   -0,41   -0,30%
  • IDXQ30 122   -0,13   -0,11%

Penembakan di Acara Dinner Pers Gedung Putih, Trump: Pelaku Benci Umat Kristen


Senin, 27 April 2026 / 05:07 WIB
Penembakan di Acara Dinner Pers Gedung Putih, Trump: Pelaku Benci Umat Kristen
ILUSTRASI. Trump mengatakan tersangka adalah "orang sakit” dan keluarganya sempat menyampaikan kekhawatiran tentang dirinya kepada aparat penegak hukum. (REUTERS/Jonathan Ernst)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (26/4/2026) mengatakan bahwa tersangka yang diduga mencoba menyerang pejabat pemerintahan dalam acara makan malam White House Correspondents' Association pada Sabtu malam menulis manifesto anti-Kristen dan memiliki “banyak kebencian di dalam hatinya”. Namun, tersangka berhasil dihentikan jauh sebelum mencapai ballroom hotel tempat acara berlangsung.

Trump mengatakan kepada Fox News bahwa tersangka adalah “orang sakit” dan keluarganya sebelumnya sempat menyampaikan kekhawatiran tentang dirinya kepada aparat penegak hukum.

Mengutip Reuters, tersangka yang menurut seorang pejabat bernama Cole Tomas Allen, 31 tahun, warga Torrance, California, ditangkap di lokasi kejadian di Washington, D.C.

“Kalau Anda membaca manifestonya, dia membenci orang Kristen,” kata Trump dalam program “Sunday Briefing” di Fox News.

Seorang pejabat penegak hukum mengatakan kepada Reuters bahwa manifesto tersebut dikirimkan kepada anggota keluarga Allen sesaat sebelum serangan terjadi. Dalam manifesto itu, tersangka menyebut dirinya sebagai “Friendly Federal Assassin”.

“Memalingkan pipi ketika orang lain ditindas bukanlah perilaku Kristen; itu adalah keterlibatan dalam kejahatan para penindas,” demikian bunyi manifesto tersebut, menurut pejabat tersebut.

Pejabat itu mengatakan manifesto tersebut memuat daftar target yang mencakup para pejabat pemerintahan, meskipun tidak memasukkan Direktur FBI Kash Patel. Target disusun berdasarkan prioritas dari pejabat paling tinggi hingga yang paling rendah.

Baca Juga: Paus Leo Sentil Pengobar Perang: Mereka Pencuri Masa Depan Dunia!

Manifesto tersebut juga mengejek “kegilaan” lemahnya sistem keamanan di Washington Hilton, lokasi berlangsungnya acara makan malam tersebut, tambah pejabat itu.

“Seperti, satu hal yang langsung saya sadari saat masuk hotel adalah rasa arogan,” tulis penulis manifesto tersebut, menurut laporan. “Saya masuk membawa banyak senjata dan tidak ada satu orang pun yang mempertimbangkan kemungkinan bahwa saya bisa menjadi ancaman.”

Kejadian kacau tersebut kembali memunculkan pertanyaan tentang keamanan para pejabat tinggi AS, yang saat itu banyak berkumpul di ballroom hotel yang luas.

Trump memanfaatkan perhatian publik akibat insiden tersebut untuk mempromosikan rencana pembangunan ballroom di Gedung Putih sebagai alternatif yang lebih aman untuk acara semacam itu.

“Meskipun indah, tempat itu memiliki semua fitur keamanan tingkat tertinggi... tidak ada ruangan di atasnya yang memungkinkan orang tak terverifikasi masuk begitu saja, dan berada di dalam pagar gedung paling aman di dunia, Gedung Putih,” tulis Trump di Truth Social.

Pelaku diketahui bepergian dengan kereta dari Los Angeles menuju Chicago, lalu ke Washington. Ia check-in di Hilton pada Jumat, kata Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche dalam beberapa acara talk show pada Minggu.

Blanche menambahkan bahwa Trump dan para pejabat tinggi pemerintahan kemungkinan menjadi target utama pelaku.

Baca Juga: Trump Buka Jalur Negosiasi: Iran Bisa Hubungi Jika Ingin Akhiri Perang

Kekerasan Politik

Para pejabat mengatakan tersangka menembakkan senapan ke arah seorang agen Secret Service di pos pemeriksaan keamanan di Washington Hilton sebelum akhirnya ditangkap dan ditahan.

Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan pejabat kabinet lainnya segera dievakuasi dari acara tersebut saat insiden terjadi.

Trump mengatakan agen Secret Service yang tertembak tidak mengalami luka serius karena peluru mengenai rompi pelindungnya.

Trump, yang sebelumnya beberapa kali memboikot acara gala media tersebut, meminta agar acara makan malam itu dijadwalkan ulang dalam waktu 30 hari.

Presiden White House Correspondents' Association, Weijia Jiang dari CBS, mengatakan dewan organisasi akan bertemu untuk menentukan langkah berikutnya.

Blanche mengatakan tersangka akan didakwa di pengadilan federal pada Senin atas tuduhan menyerang petugas federal, melepaskan tembakan, serta mencoba membunuh petugas federal.

Blanche menambahkan ia tidak mengetahui apakah ada kaitan Iran dengan serangan tersebut. Dakwaan federal tambahan kemungkinan akan menyusul.

Insiden Sabtu itu menjadi pengingat lain mengenai meningkatnya kekerasan politik di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.

Aktivis politik konservatif Charlie Kirk ditembak mati dalam sebuah unjuk rasa pada September lalu, hanya beberapa bulan setelah pembunuhan terhadap anggota DPR negara bagian Minnesota dari Partai Demokrat Melissa Hortman dan suaminya, serta penyerangan terhadap seorang senator negara bagian Minnesota.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan beberapa hari setelah pembunuhan Kirk menunjukkan warga Amerika percaya bahwa retorika politik yang semakin keras mendorong terjadinya kekerasan.

Di berbagai negara, para pemimpin dunia mengecam serangan tersebut dan menyatakan lega karena Trump dan semua yang hadir selamat.

Pemimpin NATO Mark Rutte menyebutnya sebagai serangan “terhadap masyarakat kita yang bebas dan terbuka”, dan para pemimpin menegaskan kekerasan tidak memiliki tempat dalam demokrasi.

Kunjungan Raja Charles dari Inggris ke Amerika Serikat yang dijadwalkan dimulai Senin akan tetap berlangsung, menurut Trump dan pejabat Inggris.

“Raja dan Ratu sangat berterima kasih kepada semua pihak yang bekerja cepat memastikan hal ini tetap dapat terlaksana dan menantikan kunjungan yang dimulai besok,” kata juru bicara Istana Buckingham dalam pernyataan pada Minggu.

Tonton: Deadlock Iran-AS, Trump Batalkan Kunjungan Utusan ke Islamabad

Tersangka Diduga Berencana “Melakukan Sesuatu”

Belum banyak yang diketahui soal latar belakang tersangka, namun unggahan media sosial menunjukkan ia pernah bekerja di C2 Education, sebuah lembaga bimbingan belajar dan persiapan ujian swasta berskala nasional.

C2 Education mengatakan dalam pernyataan bahwa mereka bekerja sama dengan penyelidikan aparat.

Kepala Polisi Sementara Washington Jeffery Carroll mengatakan tersangka membawa senapan, pistol, serta beberapa pisau.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan aparat yang mewawancarai saudara perempuan Allen mendapat informasi bahwa ia memiliki kecenderungan membuat pernyataan radikal.

Ia disebut pernah mengikuti aksi anti-Trump bertajuk “No Kings” dan mengungkap rencana untuk “melakukan sesuatu” guna memperbaiki masalah dunia saat ini.

Pejabat itu mengatakan Allen membeli dua pistol dan sebuah senapan, lalu menyimpannya di rumah orang tuanya.

Tersangka tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah dua lantai di jalan yang dipenuhi pepohonan, berpagar kayu putih, dan rumah-rumah bergaya craftsman di distrik bersejarah Torrance, kota pesisir di kawasan South Bay, Los Angeles.

Para tetangga di lingkungan kelas menengah tersebut pada Minggu mengatakan mereka hanya mengenal tersangka dan orang tuanya secara sekilas. Banyak yang mengatakan mereka tidak pernah berbicara dengannya selain sekadar menyapa singkat atau melambaikan tangan saat memberikan permen Halloween kepada anak-anak.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×