Sumber: Reuters | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - LONDON. Inggris mencetak penurunan penjualan ritel terbesar dalam hampir setahun di April. Office for National Statistics (ONS) Inggris melaporkan, Jumat (22/5/2026), volume penjualan ritel anjlok sebesar 1,3% secara bulanan di April.
Reuters memberitakan, ini merupakan penurunan penjualan terbesar sejak Mei 2025, yang kala itu tercatat turun sebesar 1,4%. Sementara pada Maret, penjualan ritel naik 0,6%.
Realisasi di April tersebut juga lebih rendah dari konsensus proyeksi ekonom, yang memprediksi penjualan ritel anjlok 0,6%. Data tersebut memperkuat tanda-tanda melemahnya pengeluaran konsumen di tengah perang Iran dan kenaikan biaya energi.
Baca Juga: Starbucks Hentikan Program AI Penghitung Inventaris Setelah 9 Bulan Digunakan
ONS mengatakan, volume bahan bakar turun pada April karena pengguna menghemat bahan bakar. Ini terjadi menyusul kenaikan belanja bahan bakar yang kuat pada Maret, ketika pengendara menimbun bahan bakar karena harga naik.
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, volume penjualan stagnan. Ini bertentangan dengan konsensus proyeksi para ekonom yang memperkirakan akan ada kenaikan sebesar 1,3%.
"Kekhawatiran seputar dampak konflik Iran terhadap biaya hidup, bersamaan dengan biaya hipotek yang lebih tinggi dan tekanan berkelanjutan pada keuangan rumah tangga, sangat membebani kepercayaan konsumen," kata Samuel Edwards, Kepala Manajemen Portofolio Klien Ebury, dikutip Reuters, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Mongolia Rebut Posisi Indonesia Sebagai Pemasok Batubara Terbesar ke China
Sebelumnya, sebuah survei menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen yang rendah. Tingkat kepercayaan konsumen Inggris hanya sedikit meningkat pada Mei. Rumah tangga tercatat paling enggan melakukan pembelian barang besar dalam hampir satu setengah tahun.
Peritel besar Inggris mengatakan ketidakpastian tentang dampak perang Iran membebani bisnis dan pelanggan. Peritel juga mengatakan pajak yang lebih tinggi dan lebih banyak regulasi menghambat bisnis.
Beberapa perusahaan ritel berupaya melawan tren tersebut. Peritel fesyen Next mencatatkan penjualan kuartal pertama yang lebih baik dari perkiraan. Sementara peritel elektronik Currys sedikit meningkatkan prospek laba.













