kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Perang digital antara Donald Trump vs Twitter berkobar


Jumat, 29 Mei 2020 / 20:13 WIB
Perang digital antara Donald Trump vs Twitter berkobar
ILUSTRASI. Screenshot twitter Donald Trump.

Reporter: Rizki Caturini | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON.  Twitter sebagai platform sosial media yang selama ini menjadi favorit Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyampaikan unek-uneknya, tiba-tiba menandai cuitan Trump sebagai cuitan yang harus dicek kebenarannya pada Selasa (26/5).

Twitter memberikan tautan peringatan cek fakta pada dua cuitan Trump yang dianggap klaim menyesatkan tentang pemilihan umum melalui surat di AS. Label tulisan berwarna biru yang disematkan Twitter ke dua cuitan Trump tertulis: "Dapatkan fakta-fakta tentang surat suara melalui pos".

Ketika diklik, tautan tersebut mengarahkan pengguna ke halaman yang sebagian berbunyi: "Trump mengklaim secara salah bahwa surat suara akan menyebabkan 'Pemilu yang Dipalsukan.' Namun, pemeriksa fakta mengatakan tidak ada bukti bahwa surat suara yang masuk terkait dengan penipuan pemilih.

Baca Juga: Trump berencana tinjau UU Komunikasi yang melindungi Twitter dkk

Terang saja hal itu menyulut kemarahan Trump. Pada Selasa malam, Trump menuduh Twitter mencampuri pemilu 2020 dengan "mengatakan pernyataan saya pada surat-surat suara, yang akan mengarah pada korupsi besar-besaran dan penipuan, tidak benar."

"Twitter benar-benar menghambat free speech, dan saya, sebagai Presiden, tidak akan membiarkan itu terjadi!" tambah Trump dalam cuitan lain. 
Ini lantas menjadi perbincangan lebih jauh bagaimana Twitter dan Facebook mengambil pendekatan berbeda terkait kebijakan di platform masing-masing terkait kebebasan mengemukakan pendapat di media online. 

Para CEO kedua platform populer itu pun saling tukar kritik di depan umum. Para mantan karyawan di perusahaan masing-masing saling memposting pengalaman mereka di media sosial. Warganet termasuk sejumlah legislator dengan cepat menyoroti ada perbendaan pendekatan yang diambil antara Twitter dan Facebook. Ini menimbulkan ketegangan di antara kedua platform.

Baca Juga: AS dan China bentrok di PBB gara-gara soal RUU keamanan Hong Kong

"Kami memiliki kebijakan yang berbeda dari, saya kira dengan Twitter tentang ini. Saya hanya sangat percaya bahwa Facebook seharusnya tidak menjadi wasit kebenaran dari semua yang dikatakan orang secara online," kata CEO Facebook Mark Zuckerberg kepada Fox News dalam sebuah klip yang diposting online pada Rabu (27/5). 

Beberapa jam kemudian, CEO Twitter Jack Dorsey muncul untuk menekan pernyataan itu. Ia mengatakan bahwa memberi label pada tweet dengan cek fakta tidak membuat perusahaan media sosial menjadi "wasit kebenaran".

Trump pun memerintahkan peninjauan ulang terhadap UU terkait perusahaan media sosial. Indikasinya perusahaan teknologi bisa lebih banyak mendapat tuntutan hukum. 

 



TERBARU

[X]
×