Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID -TOKYO. Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Senin (23/3/2026) karena meningkatnya ancaman pembalasan dalam konflik Timur Tengah membuat investor menghindari investasi berisiko dan meningkatkan permintaan aset safe-haven.
Indeks dolar, yang mengukur mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang lainnya, naik 0,29% menjadi 99,83 pada Senin (23/3/2026). Indeks tersebut pada hari Jumat menutup penurunan mingguan pertamanya sejak awal perang Iran, karena efek inflasi dari melonjaknya harga minyak mendorong bank sentral untuk bersikap hawkish.
Euro merosot 0,38% menjadi US$ 1,1526, sementara yen melemah 0,22% menjadi 159,55 per dolar. Poundsterling melemah 0,37% menjadi US$ 1,329.
Dolar Australia, proksi likuid untuk sentimen global, juga merosot terhadap dolar AS karena saham-saham di seluruh Asia mengalami penurunan. Dolar Australia melemah 0,95% terhadap dolar AS menjadi US$ 0,6956, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,7% terhadap dolar AS menjadi US$ 0,5793.
Baca Juga: Iran Murka: Bakal Balas Dendam Jika Pembangkit Listrik Jadi Sasaran
Harapan untuk meredakan permusuhan meredup selama akhir pekan, dengan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran dan Teheran bersumpah akan membalas dengan menyerang infrastruktur negara-negara tetangganya.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan krisis ini lebih buruk daripada gabungan dua guncangan minyak tahun 1970-an.
"Pasar mengikuti gagasan bahwa negara-negara dan ekonomi yang menikmati guncangan pasokan positif dari energi cenderung berkinerja lebih baik daripada negara-negara yang menderita guncangan pasokan negatif," kata Rodrigo Catril, seorang ahli strategi mata uang di National Australia Bank, dalam sebuah podcast seperti dikutip Reuters.
"Jadi, Anda melihat euro dan yen kesulitan berkinerja. Dan sekali lagi, jika konflik ini terbukti berkepanjangan, Anda akan berpikir bahwa mata uang itulah yang kemungkinan akan lebih menderita," tambahnya.
Konflik meluas pada Senin, dengan Israel mengumumkan serangan skala besar terhadap Teheran. Sementara Arab Saudi mengatakan dua rudal balistik telah diluncurkan ke Riyadh.
Baca Juga: Yuan China Melemah ke Level Terendah Dua Pekan, Konflik Iran Tekan Sentimen
Trump mengeluarkan ancaman terbarunya kepada Iran, kurang dari sehari setelah memberi sinyal bahwa AS mungkin mempertimbangkan untuk mengakhiri konflik. Iran berjanji akan melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur di negara-negara tetangga dan bahwa jalur pelayaran Selat Hormuz untuk minyak akan tetap ditutup.
Prospek serangan balasan terhadap infrastruktur sipil di kawasan tersebut mengancam mata pencaharian jutaan orang yang bergantung pada pabrik desalinasi untuk air.
Ancaman Besar ke Ekonomi Global
Berbicara di Sydney, Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, memperingatkan bahwa krisis saat ini menimbulkan ancaman besar bagi ekonomi global, melampaui guncangan energi Timur Tengah pada tahun 1970-an.
Indeks saham utama di seluruh Asia anjlok, dengan Nikkei Jepang turun hingga 5%. Kekhawatiran inflasi menghantam pasar utang global, dengan obligasi pemerintah Jepang jatuh tajam, dan imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik ke level tertinggi hampir delapan bulan di 4,415%.
Sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari, investor telah memperkirakan dua kali penurunan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Tetapi bahkan satu kali penurunan suku bunga pun sekarang dianggap sebagai prospek yang jauh, dan bank sentral utama lainnya menjadi lebih agresif.
"Jika pasar memperkirakan siklus pengetatan kebijakan AS, USD akan menguat tajam terhadap semua mata uang menurut pandangan kami," tulis Joseph Capurso, kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia, dalam sebuah catatan.
"AUD akan jatuh terhadap sebagian besar, jika tidak semua, mata uang utama jika terjadi penurunan peringkat global," imbuhnya.
Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga tetap pada hari Kamis, tetapi memperingatkan inflasi yang dipicu oleh harga energi. Bank of England juga mempertahankan suku bunga tetap, sementara Bank of Japan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga paling cepat pada bulan April.
Baca Juga: IEA Siap Lepas Cadangan Minyak Tambahan, Krisis Energi Dinilai Lebih Parah dari 1970













