kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.868   22,00   0,13%
  • IDX 8.970   32,95   0,37%
  • KOMPAS100 1.238   8,86   0,72%
  • LQ45 873   5,46   0,63%
  • ISSI 326   2,03   0,63%
  • IDX30 443   3,05   0,69%
  • IDXHIDIV20 521   4,24   0,82%
  • IDX80 138   1,06   0,78%
  • IDXV30 145   1,40   0,98%
  • IDXQ30 141   1,00   0,71%

Peringatan Keras Kremlin: Oreshnik Mengubah Total Aturan Negosiasi Damai


Minggu, 11 Januari 2026 / 06:43 WIB
Peringatan Keras Kremlin: Oreshnik Mengubah Total Aturan Negosiasi Damai
ILUSTRASI. Rudal Oreshnik ditembakkan Rusia sebagai sinyal kekuatan militer, bukan kehancuran. Analisis pakar mengungkap mengapa ini disebut senjata psikologis Putin. (NULL/Kremlin.ru)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Peluncuran rudal hipersonik Oreshnik oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai sebagai upaya untuk mengintimidasi Ukraina sekaligus mengirim sinyal kekuatan militer Rusia kepada Eropa dan Amerika Serikat, di tengah momen krusial pembicaraan untuk mengakhiri perang.

Reuters melaporkan, Putin berulang kali membanggakan kecepatan dan daya hancur Oreshnik, yang pertama kali ditembakkan Rusia ke Ukraina pada November 2024. Setelah itu, senjata ini disimpan dan tidak digunakan lagi hingga kini.

Serangan Oreshnik yang terjadi semalam di wilayah Ukraina barat berlangsung setelah Rusia mengalami serangkaian kemunduran. Pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengirim pasukan khusus untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sekutu dekat Putin. Lalu pada Rabu, pasukan AS menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik Utara.

Sebelumnya, pada Selasa, Inggris dan Prancis mengumumkan rencana pengiriman pasukan ke Ukraina jika terjadi gencatan senjata. Moskow langsung merespons dengan menyatakan bahwa tentara asing akan dianggap sebagai target militer yang sah.

Gerhard Mangott, pakar Rusia dari University of Innsbruck, Austria, mengatakan Moskow merasa tersisih dalam beberapa pekan diplomasi antara AS, Ukraina, dan negara-negara Eropa. Rusia juga disebut “sangat marah” atas rencana kemungkinan pengerahan pasukan Eropa oleh sekutu Kyiv. Penggunaan Oreshnik, menurutnya, harus dibaca dalam konteks tersebut.

“Ini adalah sinyal kepada Amerika Serikat dan Eropa tentang kemampuan militer Angkatan Bersenjata Rusia,” kata Mangott dalam wawancara telepon.

Baca Juga: Anomali Trump: Mengapa AS Ngotot Ingin Kuasai Greenland?

Ia menambahkan, Moskow ingin menegaskan bahwa “Rusia harus diperlakukan serius karena memiliki persenjataan militer yang kuat, dan bahwa Eropa serta Trump perlu kembali menunjukkan setidaknya rasa hormat minimum terhadap posisi Rusia dalam perundingan.”

Bukan Kehancuran yang Jadi Tujuan Utama

Oreshnik mampu membawa hulu ledak nuklir maupun konvensional, meski tidak ada indikasi bahwa serangan terbaru ini melibatkan muatan nuklir.

Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan kepada Reuters bahwa rudal tersebut menghantam sebuah badan usaha milik negara di kota Lviv, Ukraina barat, dan kemungkinan membawa hulu ledak inert atau “dummy”. Hal serupa juga terjadi pada 2024, ketika Rusia pertama kali menembakkan Oreshnik sebagai uji coba senjata di medan perang.

“Pada tahap ini, tampaknya Rusia menggunakan Oreshnik lebih sebagai alat pengiriman pesan, jadi kehancuran bukan tujuan utamanya,” kata Pavel Podvig, Direktur Russian Nuclear Forces Project, kepada Reuters.

Menurutnya, penggunaan hulu ledak palsu tidak mengurangi efek intimidatif dari aksi Moskow tersebut.

Baca Juga: Kapal Tanker Venezuela Kembali, AS Langsung Sita M Sophia

“Itu kemungkinan besar merupakan sinyal tekad untuk meningkatkan eskalasi. Dugaan saya, Barat akan membaca langkah ini seperti itu,” ujarnya.

Reaksi Barat pun cepat. Serangan yang terjadi sekitar 60 kilometer dari perbatasan Ukraina dengan Polandia—anggota NATO—langsung dikecam oleh para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman sebagai tindakan “eskalatif dan tidak dapat diterima”.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyebut serangan itu sebagai “eskalasi yang jelas terhadap Ukraina dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan Amerika Serikat”.


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×