kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.856.000   -100.000   -3,38%
  • USD/IDR 16.897   42,00   0,25%
  • IDX 7.874   -229,46   -2,83%
  • KOMPAS100 1.107   -33,03   -2,90%
  • LQ45 810   -19,08   -2,30%
  • ISSI 276   -9,30   -3,26%
  • IDX30 424   -8,68   -2,01%
  • IDXHIDIV20 511   -9,49   -1,82%
  • IDX80 124   -3,34   -2,63%
  • IDXV30 138   -3,78   -2,67%
  • IDXQ30 138   -2,09   -1,49%

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Tamat, Ini Skenario Terburuk yang Bisa Terjadi di Dunia


Jumat, 06 Februari 2026 / 09:52 WIB
Perjanjian Nuklir AS-Rusia Tamat, Ini Skenario Terburuk yang Bisa Terjadi di Dunia
ILUSTRASI. Untuk pertama kalinya dalam setengah abad, dua kekuatan nuklir terbesar tak terikat. Ketahui skenario terburuk yang bisa terjadi di panggung global. (NULL/Sergey Bobly)


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Lebih dari setengah abad era pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia resmi berakhir, setelah Perjanjian New START, pakta nuklir terakhir yang membatasi persenjataan kedua negara, kedaluwarsa.

Melansir PA Media, Kremlin menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian tersebut. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun, dua negara dengan arsenal nuklir terbesar di dunia kini tidak lagi memiliki batas resmi jumlah hulu ledak nuklir yang boleh mereka miliki.

Para pakar pengendalian senjata memperingatkan, berakhirnya New START berpotensi membuka jalan bagi perlombaan senjata nuklir tanpa batas.

AS dan Rusia Gagal Sepakat Perpanjangan

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan kesediaannya untuk tetap mematuhi batasan perjanjian selama satu tahun tambahan, jika Amerika Serikat melakukan hal yang sama. Namun, Presiden AS Donald Trump tidak memberikan komitmen jelas untuk memperpanjang perjanjian tersebut.

Trump justru mendorong agar China ikut dilibatkan dalam perjanjian nuklir baru. Namun, Beijing menolak usulan tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Trump menilai pengendalian senjata di abad ke-21 tidak akan efektif tanpa melibatkan China, mengingat pertumbuhan pesat arsenal nuklir negara tersebut.

Baca Juga: Ekspor Vietnam Januari Naik 29,7%, Produksi Industri Melonjak 21,5%

Sikap Rusia dan China

Putin membahas kedaluwarsanya New START dengan Presiden China Xi Jinping. Kremlin menyatakan Rusia akan bertindak “secara seimbang dan bertanggung jawab” berdasarkan analisis situasi keamanan.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow memandang kedaluwarsanya perjanjian ini secara negatif, namun Rusia akan tetap mengedepankan stabilitas strategis, sembari mengutamakan kepentingan nasionalnya.

Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyatakan kesiapan mengambil langkah militer-teknis jika diperlukan untuk menghadapi potensi ancaman terhadap keamanan nasional.

Meski demikian, Rusia menegaskan tetap terbuka terhadap solusi politik dan diplomatik untuk menstabilkan situasi strategis, jika kondisi memungkinkan.

Di sisi lain, China menegaskan tidak akan ikut dalam perundingan perlucutan senjata nuklir saat ini. Beijing beralasan, ukuran kekuatan nuklir China masih jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia.

China juga menyerukan agar AS dan Rusia segera melanjutkan dialog nuklir secara bilateral.

Baca Juga: Uber Diperintahkan Bayar US$8,5 Juta dalam Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Pengemudi

Apa Itu Perjanjian New START?

Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Perjanjian ini membatasi masing-masing negara untuk memiliki maksimal:

  • 1.550 hulu ledak nuklir
  • 700 rudal dan pembom nuklir yang siap digunakan

Awalnya, perjanjian ini seharusnya berakhir pada 2021, namun diperpanjang selama lima tahun hingga 2026.

New START juga mengatur inspeksi langsung di lokasi untuk memastikan kepatuhan. Namun, inspeksi dihentikan sejak 2020 akibat pandemi Covid-19 dan tidak pernah dilanjutkan.

Pada Februari 2023, Putin menangguhkan partisipasi Rusia dalam perjanjian tersebut, dengan alasan Rusia tidak bisa menerima inspeksi AS di tengah konflik Ukraina dan dukungan NATO terhadap Kyiv. Meski begitu, Moskow saat itu menegaskan tetap menghormati batasan jumlah senjata.

Tonton: Harga Emas Antam Terpuruk Hari ini (6 Februari 2026)

Kekhawatiran Perlombaan Senjata Nuklir Baru

Berakhirnya New START menandai berakhirnya rangkaian panjang perjanjian pengendalian nuklir AS–Rusia, yang dimulai sejak SALT I pada 1972.

Para pegiat pengendalian senjata menyuarakan kekhawatiran serius. Mereka menilai dunia berisiko memasuki era baru perlombaan senjata nuklir yang melibatkan AS, Rusia, dan China.

Direktur Arms Control Association, Daryl Kimball, memperingatkan bahwa jika AS meningkatkan jumlah senjata nuklirnya, Rusia kemungkinan akan mengikuti, sementara China bisa mempercepat pembangunan kekuatan nuklirnya.

“Situasi ini berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir tiga arah yang berbahaya dan berlangsung selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Selanjutnya: BI dan Bank of Korea Perpanjang Swap Mata Uang Lokal Hingga Rp 115 Triliun

Menarik Dibaca: Diskon 50% CFC Hebat, Promo Paket Ayam Favorit Mulai Rp 26 Ribuan Saja




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×