Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Apa Itu Perjanjian New START?
Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.
Perjanjian ini membatasi masing-masing negara untuk memiliki maksimal:
- 1.550 hulu ledak nuklir
- 700 rudal dan pembom nuklir yang siap digunakan
Awalnya, perjanjian ini seharusnya berakhir pada 2021, namun diperpanjang selama lima tahun hingga 2026.
New START juga mengatur inspeksi langsung di lokasi untuk memastikan kepatuhan. Namun, inspeksi dihentikan sejak 2020 akibat pandemi Covid-19 dan tidak pernah dilanjutkan.
Pada Februari 2023, Putin menangguhkan partisipasi Rusia dalam perjanjian tersebut, dengan alasan Rusia tidak bisa menerima inspeksi AS di tengah konflik Ukraina dan dukungan NATO terhadap Kyiv. Meski begitu, Moskow saat itu menegaskan tetap menghormati batasan jumlah senjata.
Tonton: Harga Emas Antam Terpuruk Hari ini (6 Februari 2026)
Kekhawatiran Perlombaan Senjata Nuklir Baru
Berakhirnya New START menandai berakhirnya rangkaian panjang perjanjian pengendalian nuklir AS–Rusia, yang dimulai sejak SALT I pada 1972.
Para pegiat pengendalian senjata menyuarakan kekhawatiran serius. Mereka menilai dunia berisiko memasuki era baru perlombaan senjata nuklir yang melibatkan AS, Rusia, dan China.
Direktur Arms Control Association, Daryl Kimball, memperingatkan bahwa jika AS meningkatkan jumlah senjata nuklirnya, Rusia kemungkinan akan mengikuti, sementara China bisa mempercepat pembangunan kekuatan nuklirnya.
“Situasi ini berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir tiga arah yang berbahaya dan berlangsung selama bertahun-tahun,” ujarnya.













