kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

PM Jepang Takaichi Bubarkan Parlemen Jumat, Umumkan Pemilu Nasional


Senin, 19 Januari 2026 / 16:37 WIB
PM Jepang Takaichi Bubarkan Parlemen Jumat, Umumkan Pemilu Nasional
ILUSTRASI. Perdana Menteri Sanae Takaichi siap bubarkan parlemen Jumat ini. Ini langkah strategis untuk amankan dukungan publik pada rencana besar. Apa target sebenarnya di balik pemilu dadakan ini? (Pool via REUTERS/YUICHI YAMAZAKI)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan akan membubarkan parlemen pada Jumat dan menggelar pemilihan umum nasional guna meminta dukungan pemilih terhadap rencana peningkatan belanja negara serta strategi keamanan baru yang diperkirakan akan mempercepat penguatan pertahanan Jepang.

Pemilu dadakan tersebut akan menentukan seluruh 465 kursi di majelis rendah parlemen. Ini sekaligus menjadi ujian elektoral pertama bagi Takaichi sejak ia menjabat sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang pada Oktober lalu.

Keputusan menggelar pemilu lebih awal dinilai memungkinkan Takaichi memanfaatkan tingkat dukungan publik yang masih kuat untuk memperkokoh kendalinya atas Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa, sekaligus mengamankan mayoritas koalisi pemerintah yang saat ini relatif rapuh.

Baca Juga: Saham Jepang Merosot, Investor Hadapi Risiko Geopolitik & Perang Dagang Baru

Namun, pemilihan ini juga akan menguji sejauh mana pemilih bersedia menerima peningkatan belanja negara di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat dan menjadi kekhawatiran utama masyarakat.

Jajak pendapat yang dirilis stasiun penyiaran publik NHK pekan lalu menunjukkan, sebanyak 45% responden menyebut kenaikan harga sebagai kekhawatiran terbesar mereka, disusul isu diplomasi dan keamanan nasional sebesar 16%.


Tag


TERBARU

[X]
×