Sumber: Economic Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Harga perak mengawali 2026 dengan momentum yang sangat kuat. Pada awal Januari, harga spot perak sempat menembus US$ 121 per ounce, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini didorong oleh kecemasan makroekonomi, ketidakpastian kebijakan Federal Reserve, serta tingginya partisipasi investor ritel.
Mengutip Economic Times, data kontrak berjangka (futures) di COMEX menunjukkan volume perdagangan yang memecahkan rekor. Sementara itu, exchange-traded fund (ETF) berbasis perak mencatat arus dana masuk (inflow) terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, optimisme tersebut runtuh secara tiba-tiba pada 30 Januari 2026. Harga perak anjlok lebih dari 30% hanya dalam satu sesi perdagangan, menghapus sebagian besar kenaikan dalam hitungan jam. Penurunan ini termasuk salah satu yang terburuk dalam sejarah modern perdagangan perak.
Memasuki awal Februari, harga perak diperdagangkan di sekitar US$ 88 per ounce. Meski masih menguat secara tahunan (year to date), level ini jauh di bawah puncaknya.
Meski sempat jatuh tajam, perak tetap menjadi salah satu aset utama dengan kinerja terbaik sepanjang 2026 sejauh ini. Hal ini menegaskan daya tarik perak sebagai aset spekulatif sekaligus aset lindung nilai (safe haven).
Agar harga perak bisa mencapai US$ 200 per ounce pada 2026, nilainya harus lebih dari dua kali lipat dari level Februari di sekitar US$ 88. Meski terdengar ekstrem, sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga komoditas pada fase spekulatif sering kali melampaui logika konvensional.
Baca Juga: Singapura Peringkat Ketiga Negara Paling Bersih Dari Korupsi di Dunia 2025
Kenaikan sebesar ini kemungkinan membutuhkan rasio emas terhadap perak (gold-to-silver ratio) menyempit ke sekitar 30:1. Level tersebut terakhir kali terjadi pada 1980, saat peristiwa “silver corner” oleh Hunt bersaudara.
Mengapa Harga Perak Anjlok Setelah Cetak Rekor?
Pemicu utama kejatuhan harga perak bukanlah gangguan pasokan atau perlambatan permintaan industri, melainkan faktor politik dan kebijakan moneter.
Pada 30 Januari, Presiden Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve berikutnya. Langkah ini memicu spekulasi soal arah dan independensi kebijakan moneter AS.
Pasar menafsirkan pengumuman tersebut sebagai sinyal stabilitas kebijakan yang lebih besar dan potensi penguatan dolar AS.
Dolar menguat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields) naik. Sentimen risiko membaik.
Bagi perak, ini justru menjadi kabar buruk.
Harga perak cenderung menguat saat investor khawatir terhadap inflasi, pelemahan mata uang, atau ketidakstabilan bank sentral. Sebelum pengumuman tersebut, ketidakpastian soal pengganti Jerome Powell mendorong pembelian besar-besaran logam mulia. Setelah kejelasan muncul, “premi ketakutan” itu menghilang dengan cepat.
Penguatan dolar juga memberi tekanan langsung pada harga perak. Karena diperdagangkan dalam dolar, dolar yang lebih kuat membuat perak lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan global. Trader futures pun ramai-ramai menutup posisi leverage, mempercepat aksi jual.
Baca Juga: Dana Asing Kabur dari Bursa Asia! US$9,79 Miliar Lenyap dalam Seminggu
Penting dicatat, ini bukanlah kolaps permintaan fisik. Indikator permintaan industri, seperti panel surya dan elektronik, tetap stabil. Kejatuhan harga lebih banyak dipicu sentimen, diperparah oleh perdagangan algoritmik dan likuidasi margin.













