kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Prediksi Harga Perak 2026: Mungkinkah Tembus US$ 200 per Ounce?


Rabu, 11 Februari 2026 / 02:40 WIB
Prediksi Harga Perak 2026: Mungkinkah Tembus US$ 200 per Ounce?
ILUSTRASI. Perak anjlok 30% setelah cetak rekor US$121. Cari tahu apakah US$200 realistis atau hanya euforia pasar yang harus diwaspadai. (Sven Hoppe/DPA via REUTERS)


Sumber: Economic Times | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Harga perak mengawali 2026 dengan momentum yang sangat kuat. Pada awal Januari, harga spot perak sempat menembus US$ 121 per ounce, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini didorong oleh kecemasan makroekonomi, ketidakpastian kebijakan Federal Reserve, serta tingginya partisipasi investor ritel.

Mengutip Economic Times, data kontrak berjangka (futures) di COMEX menunjukkan volume perdagangan yang memecahkan rekor. Sementara itu, exchange-traded fund (ETF) berbasis perak mencatat arus dana masuk (inflow) terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, optimisme tersebut runtuh secara tiba-tiba pada 30 Januari 2026. Harga perak anjlok lebih dari 30% hanya dalam satu sesi perdagangan, menghapus sebagian besar kenaikan dalam hitungan jam. Penurunan ini termasuk salah satu yang terburuk dalam sejarah modern perdagangan perak.

Memasuki awal Februari, harga perak diperdagangkan di sekitar US$ 88 per ounce. Meski masih menguat secara tahunan (year to date), level ini jauh di bawah puncaknya.

Meski sempat jatuh tajam, perak tetap menjadi salah satu aset utama dengan kinerja terbaik sepanjang 2026 sejauh ini. Hal ini menegaskan daya tarik perak sebagai aset spekulatif sekaligus aset lindung nilai (safe haven).

Agar harga perak bisa mencapai US$ 200 per ounce pada 2026, nilainya harus lebih dari dua kali lipat dari level Februari di sekitar US$ 88. Meski terdengar ekstrem, sejarah menunjukkan bahwa lonjakan harga komoditas pada fase spekulatif sering kali melampaui logika konvensional.

Baca Juga: Singapura Peringkat Ketiga Negara Paling Bersih Dari Korupsi di Dunia 2025

Kenaikan sebesar ini kemungkinan membutuhkan rasio emas terhadap perak (gold-to-silver ratio) menyempit ke sekitar 30:1. Level tersebut terakhir kali terjadi pada 1980, saat peristiwa “silver corner” oleh Hunt bersaudara.

Mengapa Harga Perak Anjlok Setelah Cetak Rekor?

Pemicu utama kejatuhan harga perak bukanlah gangguan pasokan atau perlambatan permintaan industri, melainkan faktor politik dan kebijakan moneter.

Pada 30 Januari, Presiden Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve berikutnya. Langkah ini memicu spekulasi soal arah dan independensi kebijakan moneter AS.

Pasar menafsirkan pengumuman tersebut sebagai sinyal stabilitas kebijakan yang lebih besar dan potensi penguatan dolar AS.

Dolar menguat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yields) naik. Sentimen risiko membaik.

Bagi perak, ini justru menjadi kabar buruk.

Harga perak cenderung menguat saat investor khawatir terhadap inflasi, pelemahan mata uang, atau ketidakstabilan bank sentral. Sebelum pengumuman tersebut, ketidakpastian soal pengganti Jerome Powell mendorong pembelian besar-besaran logam mulia. Setelah kejelasan muncul, “premi ketakutan” itu menghilang dengan cepat.

Penguatan dolar juga memberi tekanan langsung pada harga perak. Karena diperdagangkan dalam dolar, dolar yang lebih kuat membuat perak lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menekan permintaan global. Trader futures pun ramai-ramai menutup posisi leverage, mempercepat aksi jual.

Baca Juga: Dana Asing Kabur dari Bursa Asia! US$9,79 Miliar Lenyap dalam Seminggu

Penting dicatat, ini bukanlah kolaps permintaan fisik. Indikator permintaan industri, seperti panel surya dan elektronik, tetap stabil. Kejatuhan harga lebih banyak dipicu sentimen, diperparah oleh perdagangan algoritmik dan likuidasi margin.

Perak sebagai Aset Safe Haven di Tengah Ketidakpastian

Meski sudah terkoreksi, tesis investasi perak secara jangka menengah masih dianggap relevan.

Perekonomian AS pada 2026 masih dibayangi ketidakpastian. Inflasi memang melandai dari puncaknya, tetapi masih di atas target jangka panjang The Fed. Suku bunga riil bergejolak. Pertumbuhan global tidak merata. Risiko geopolitik tetap membara.

Dalam kondisi seperti ini, investor secara historis cenderung beralih ke aset riil (hard assets). Perak berada di posisi unik karena berfungsi sebagai aset lindung nilai sekaligus bahan baku industri.

Berbeda dengan emas, perak banyak digunakan dalam energi surya, kendaraan listrik, semikonduktor, dan peralatan medis. Menurut estimasi industri, lebih dari 50% permintaan global perak kini berasal dari sektor industri—sebuah pergeseran struktural yang menopang harga jangka panjang.

Di saat yang sama, minat investor ritel melonjak. Data broker online menunjukkan peningkatan transaksi pada ETF perak dan saham tambang sepanjang Januari. Aktivitas di media sosial terkait “prediksi harga perak 2026” dan “apakah perak bisa tembus US$ 200” juga meningkat tajam setelah kejatuhan harga, menandakan spekulasi masih tinggi.

Kombinasi permintaan investasi dan industri membuat perak lebih volatil dibanding emas, namun juga berpotensi mencatat reli yang lebih tajam saat sentimen berubah.

Realistis Kah Perak Tembus US$ 200 pada 2026?

Kenaikan menuju US$ 200 per ounce berarti lonjakan lebih dari 125% dari level awal Februari. Secara historis, pergerakan sebesar ini jarang terjadi, tetapi bukan mustahil dalam periode spekulasi ekstrem atau tekanan makroekonomi besar.

Agar perak bisa mencapai US$ 200 pada 2026, beberapa kondisi kemungkinan harus terjadi bersamaan:

Pertama, kepercayaan terhadap independensi bank sentral kembali melemah. Tanda-tanda campur tangan politik, data inflasi yang mengejutkan, atau perubahan suku bunga yang mendadak bisa memicu kembali pembelian aset safe haven.

Tonton: Peran Eropa Meningkat, Siap Jadi Tempat Aman Investor Dunia

Kedua, antusiasme investor ritel perlu meningkat lebih jauh. Peristiwa “silver squeeze” pada 2021 menunjukkan bagaimana aksi ritel terkoordinasi dapat mendorong harga jauh dari fundamental dalam jangka pendek.

Ketiga, pasokan harus semakin ketat. Produksi tambang perak global cenderung stagnan, sementara permintaan dari sektor energi terbarukan terus meningkat. Gangguan di negara produsen utama bisa menjadi katalis tambahan.

Meski demikian, sebagian besar analis menilai skenario perak US$ 200 sebagai kemungkinan kecil, bukan skenario utama. Setelah reli tajam, pasar rentan memasuki fase konsolidasi. Volatilitas biasanya meningkat di dekat puncak spekulatif.

Secara praktis, jika perak benar-benar menembus US$ 200, hal itu kemungkinan lebih mencerminkan euforia dan momentum pasar ketimbang fundamental yang berkelanjutan, dan berpotensi diikuti oleh koreksi tajam.

Selanjutnya: Robert Kiyosaki Sebut Bitcoin Lebih Baik dari Emas, Ini Alasannya


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×