kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45886,18   -14,64   -1.62%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Presiden Taiwan: Hubungan dengan China harus Berdasarkan Keinginan Rakyat


Selasa, 02 Januari 2024 / 08:53 WIB
Presiden Taiwan: Hubungan dengan China harus Berdasarkan Keinginan Rakyat
ILUSTRASI. Taiwan menegaskan bahwa hubungan Taiwan dengan China harus ditentukan oleh kemauan rakyat dan perdamaian harus didasarkan pada martabat. REUTERS/Dado Ruvic


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - TAIPEI. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan pada hari Senin (1/1/2024) bahwa hubungan Taiwan dengan China harus ditentukan oleh kemauan rakyat dan perdamaian harus didasarkan pada martabat. 

Mengutip Reuters, pernyataan tegas ini dirilis setelah pemimpin China Xi Jinping, mengatakan penyatuan kembali dengan pulau itu tidak bisa dihindari.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, China kian meningkatkan tekanan militer untuk menegaskan klaim kedaulatannya atas Taiwan yang diperintah secara demokratis. 

Informasi saja, pada 13 Januari 2024 mendatang, Taiwan akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen.

Komentar Xi, dalam pidato Malam Tahun Baru, memberikan nada yang lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya di mana ia hanya mengatakan bahwa orang-orang di kedua sisi Selat Taiwan adalah anggota dari satu keluarga yang sama.

Ditanya tentang pidato Xi pada konferensi pers Tahun Baru di kantor kepresidenan di Taipei, Tsai mengatakan prinsip paling penting tentang arah yang harus diambil dalam hubungan dengan China adalah demokrasi.

Baca Juga: China Hadapi Penurunan Permintaan Manufaktur

“Ini membutuhkan kemauan bersama rakyat Taiwan untuk mengambil keputusan. Bagaimanapun, kami adalah negara demokratis,” ujarnya.

Dia menambahkan, China harus menghormati hasil pemilu Taiwan dan merupakan tanggung jawab kedua belah pihak untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di selat tersebut.

China telah menjadikan pemilu ini sebagai pilihan antara perang dan perdamaian dan telah menolak beberapa tawaran perundingan yang diajukan Tsai. Hal ini dikarenakan China meyakini bahwa Tsai adalah seorang separatis.

Tsai telah menjadikan penguatan dan modernisasi pertahanan Taiwan sebagai prioritas, termasuk mendorong program kapal selam dalam negeri.

"Rumah setiap orang dikunci, bukan untuk memprovokasi tetangga sebelah tetapi untuk membuat diri Anda lebih aman. Hal yang sama berlaku untuk pintu-pintu negara. Rakyat Taiwan menginginkan perdamaian, namun kami menginginkan perdamaian yang bermartabat," katanya.

Baca Juga: Pesan Akhir Tahun Xi Jinping: Reunifikasi dengan Taiwan Tak Bisa Dihindari

Pemerintah Taiwan telah berulang kali memperingatkan bahwa China sedang mencoba ikut campur dalam pemilu, baik dengan menggunakan berita palsu atau tekanan militer atau perdagangan, dan Tsai mengatakan dia berharap masyarakat dapat mewaspadai hal ini.

Setelah China menuduh Taiwan menerapkan hambatan perdagangan dan mengakhiri sejumlah pemotongan tarif terhadap pulau tersebut, Tiongkok pada pekan lalu mengancam akan melakukan langkah-langkah ekonomi lebih lanjut.

Tsai mengatakan perusahaan Taiwan harus melihat secara global dan melakukan diversifikasi.

“Ini adalah jalan yang benar, daripada kembali mengandalkan China, apalagi di pasar China yang tidak stabil, terdapat risiko yang tidak dapat diprediksi,” ujarnya.

“Kami selalu menyambut baik interaksi yang sehat dan teratur di seluruh selat, namun perdagangan dan pertukaran ekonomi tidak bisa menjadi alat politik,” tegasnya.

Tsai tidak dapat mencalonkan diri lagi setelah dua periode menjabat. Dia akan mengundurkan diri pada bulan Mei ketika presiden berikutnya dilantik.




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×