Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Peluang Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga acuan tahun ini masih terbuka meski inflasi Amerika Serikat (AS) pada Juni mencatat penurunan bulanan pertama sejak 2020.
Data tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar dan membuat investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada Juli. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan inflasi yang telah bertahan di atas target 2% selama lima tahun terakhir masih menjadi fokus utama bank sentral.
Pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga paling cepat terjadi pada September dan hampir pasti berlangsung sebelum akhir tahun. Pandangan itu didukung kenaikan harga minyak pasca-gagalnya gencatan senjata AS-Iran serta kuatnya belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang dinilai masih menopang tekanan inflasi.
Melansir Bloomberg (20/7), Manajer Portofolio Columbia Threadneedle Ed Al-Hussainy menilai, The Fed memiliki ruang untuk kembali memperketat kebijakan moneter. Menurut dia, inflasi belum cukup terkendali sehingga bank sentral tidak perlu terlalu khawatir terhadap risiko perlambatan ekonomi.
Baca Juga: Pejabat The Fed Yakin Inflasi AS Mulai Mendingin Meski Masih di Atas Target
Ekspektasi tersebut telah tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor dua tahun naik menjadi hampir 4,2% sejak akhir Februari, sehingga ikut mendorong kenaikan biaya kredit dan memperketat kondisi keuangan.
Chi Chen, salah satu pengelola BlackRock Total Return Fund, menilai pasar saat ini memperkirakan jalur kenaikan suku bunga yang lebih agresif dibandingkan proyeksi perusahaannya. Meski demikian, ia memperkirakan The Fed tetap akan mempertahankan sikap hawkish sembari menunggu bukti bahwa inflasi dan pertumbuhan ekonomi mulai melandai pada paruh kedua tahun ini.
Sementara itu, ekonom Bank of America memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September, Oktober, dan Desember. Menurut mereka, dibutuhkan beberapa laporan inflasi lagi yang menunjukkan perlambatan serupa sebelum bank sentral memiliki keyakinan bahwa tekanan harga benar-benar kembali menuju target 2%.
Baca Juga: Dolar AS Melemah Usai Inflasi Melandai, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menyusut













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
