Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Kebangkitan kembali industri nuklir Jepang pasca-bencana Fukushima mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap kinerja korporasi.
Chief Financial Officer (CFO) Mitsubishi Heavy Industries (MHI), Hiroshi Nishio, menyatakan bahwa peningkatan jumlah reaktor yang kembali beroperasi akan mendorong penjualan unit bisnis tenaga nuklir perseroan mencapai rekor 400 miliar yen (sekitar US$2,54 miliar) pada tahun buku mendatang.
Angka tersebut jauh melampaui proyeksi awal perusahaan. “Sebelumnya kami memperkirakan penjualan dapat mencapai 400 miliar yen sekitar tahun 2030,” ujar Nishio dalam wawancara.
Seiring meningkatnya pesanan, MHI juga berencana menambah jumlah karyawan di divisi manufaktur reaktor sekitar 10% pada tahun depan.
Kebangkitan Industri Nuklir Pasca-Fukushima
Lima belas tahun setelah bencana nuklir yang dipicu tsunami di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant melumpuhkan industri nuklir Jepang, pemerintah setempat kini secara bertahap menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir. Hingga saat ini, Jepang telah mengoperasikan kembali 15 dari total 33 reaktor yang dinilai layak beroperasi.
Baca Juga: Dolar Stabil, Investor Bersikap Pesimis terhadap Euro di Tengah Lonjakan Harga Energi
Pemerintah Jepang menegaskan bahwa reaktivasi reaktor nuklir menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan gas, yang saat ini menyumbang sekitar dua pertiga dari total pembangkitan listrik nasional. Ketergantungan tersebut dinilai berisiko, mengingat sebagian besar pasokan bahan bakar fosil Jepang berasal dari kawasan Timur Tengah.
Gangguan pasokan energi semakin terasa setelah meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berdampak pada stabilitas distribusi energi global.
TEPCO Aktifkan Reaktor di Kashiwazaki-Kariwa
Momentum penting tercapai bulan lalu ketika operator Fukushima, Tokyo Electric Power Company (TEPCO), kembali mengaktifkan satu dari tujuh reaktor yang sebelumnya tidak beroperasi di fasilitas Kashiwazaki-Kariwa Nuclear Power Plant. Pembangkit ini merupakan yang terbesar di dunia dan berlokasi sekitar 220 kilometer barat laut Tokyo.
Baca Juga: Trump Ancam Embargo Perdagangan dengan Spanyol, Ini Alasannya
Langkah tersebut dipandang sebagai tonggak penting dalam upaya pemulihan sektor energi nuklir Jepang, sekaligus memperkuat prospek bisnis bagi perusahaan seperti MHI yang terlibat dalam proses reaktivasi dan pengembangan teknologi reaktor.
Kembangkan Reaktor Generasi Baru yang Lebih Aman
Selain mendukung pengoperasian kembali reaktor lama, MHI juga tengah mengembangkan reaktor generasi baru bersama sejumlah perusahaan utilitas Jepang. Perusahaan mengklaim desain terbaru ini memiliki standar keselamatan yang lebih tinggi dibandingkan reaktor yang mengalami pelelehan inti saat bencana Fukushima pada 2011.
Pasca-bencana tersebut, MHI mempertahankan kelangsungan bisnis nuklirnya antara lain melalui keterlibatan dalam proyek fasilitas pemrosesan ulang bahan bakar nuklir bekas di Rokkasho Reprocessing Plant. Fasilitas ini memisahkan uranium dan plutonium yang masih dapat digunakan kembali dari limbah radioaktif tingkat tinggi.
“Kami mempertahankan sumber daya manusia dan teknologi dengan keyakinan bahwa tenaga nuklir pada akhirnya akan kembali dibutuhkan,” ujar Nishio.












