Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - LONDON/SYDNEY. Dua raksasa pertambangan, Glencore dan Rio Tinto sedang berada dalam tahap awal pembicaraan akuisisi yang berpotensi menciptakan perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan nilai pasar gabungan hampir US$ 207 miliar.
Perusahaan pertambangan global berlomba-lomba untuk meningkatkan cadangan logam seperti tembaga, yang diperkirakan akan diuntungkan dari transisi energi global. Dan hal itu telah memicu gelombang ekspansi proyek dan upaya akuisisi.
Misal, Anglo American yang terdaftar di London dan Teck Resources dari Kanada hampir mencapai tahap akhir merger untuk menciptakan perusahaan raksasa yang berfokus pada tembaga senilai US$ 53 miliar.
Belakangan, Rio Tinto dan Glencore juga sedang dalam tahap pembicaraan awal untuk akuisisi.
Baca Juga: Laba Kuartalan Uniqlo Melejit 34%, Tahan Gempuran Tarif AS
Diskusi antara Rio Tinto dan Glencore tentang penggabungan sebagian atau seluruh bisnis mereka adalah putaran kedua pembicaraan dalam waktu lebih dari setahun antara kedua perusahaan, setelah Glencore mendekati Rio Tinto pada akhir tahun 2024 tetapi kesepakatan tidak terwujud.
Kedua perusahaan menyebut, salah satu opsi akan mencakup pembelian saham Glencore oleh Rio Tinto. "Tidak ada kepastian bahwa persyaratan kesepakatan atau penawaran apa pun akan disetujui," sebut Rio Tinto dan Glencore setelah Financial Times pertama kali melaporkan pembicaraan akuisis yang dihidupkan kembali.
Saham Glencore yang terdaftar di AS naik 6% setelah adanya pembicaraan akuisisi dikonfirmasi. Tetapi saham Rio Tinto yang terdaftar di Australia turun hingga 6,4% ke titik terendah sejak Juli 2022 di tengah pasar yang lebih positif.
"Ada risiko (Rio) bisa membayar terlalu mahal. Ini bergantung pada harga, tetapi jika mereka harus membayar premi yang besar, ada risiko bahwa transaksi tersebut dapat menghancurkan sebagian nilai bagi pemegang saham," kata Tim Hillier, seorang analis di manajer dana Allan Gray, yang merupakan investor Rio Tinto seperti dikutip Reuters.
Hiller mengatakan, Rio Tinto memiliki serangkaian proyek internal dengan pertumbuhan tinggi yang kuat. "Tidak jelas mengapa mereka perlu mencari hal-hal yang dapat dilakukan dari luar," tambahnya.
Berdasarkan aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki waktu hingga 5 Februari 2026 untuk mengajukan penawaran resmi terhadap Glencore atau menyatakan tidak akan melanjutkan.
Rio Tinto, penambang bijih besi terbesar di dunia, memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 142 miliar. Glencore, salah satu produsen logam dasar terbesar di dunia, bernilai US$ 65 miliar pada penutupan terakhirnya.
Transaksi ini akan menjadi kesepakatan pertambangan terbesar di dunia jika selesai, menurut data LSEG, dan nilai pasar perusahaan gabungan akan melampaui BHP Group Australia sebesar US$ 161 miliar. Saham BHP naik 0,6% pada perdagangan awal Australia pada Jumat (9/1/2026).
Fokus ke Tembaga
Rio Tinto dan Glencore memulai kembali pembicaraan kesepakatan pada akhir tahun 2025, menurut sumber Reuters yang mengetahui masalah tersebut.
Rio Tinto telah mengalami perubahan signifikan sejak saat itu. CEO Rio Tinto yang baru, Simon Trott, dipilih setelah ketua perusahaan menyatakan preferensi untuk seorang pemimpin yang lebih terbuka terhadap kesepakatan skala besar daripada pendahulunya, Jakob Stausholm, yang bertanggung jawab ketika perusahaan tambang tersebut menolak pendekatan Glencore pada akhir tahun 2024.
Di bawah kepemimpinan Trott, yang mengambil alih jabatan pada bulan Agustus, Rio Tinto berfokus untuk menjadi lebih ramping dengan aset non-inti yang lebih sedikit.
Baca Juga: Swiss Bekukan Aset Maduro, Jejak Emas Rp87 Triliun Venezuela Terungkap
Andy Forster, petugas investasi senior di Argo Investments, pemegang saham Rio Tinto, mengatakan kesepakatan itu masuk akal jika persyaratannya tepat untuk kedua perusahaan.
"Tanda tanya terbesar adalah budaya kedua perusahaan karena Glencore jelas memiliki latar belakang perdagangan, sangat oportunistik dan berfokus pada hasil, beberapa aspek budaya mereka sebenarnya bisa baik untuk Rio," katanya.
"Saya harap Rio tetap disiplin tetapi masuk akal untuk mempertimbangkan hal ini," imbuhnya.
Rio Tinto dan Glencore sama-sama mengalihkan fokus mereka ke tembaga, komoditas yang diperkirakan akan memiliki permintaan tinggi seiring dunia mengadopsi bentuk energi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan yang boros energi.
Sebelum pembicaraan kesepakatan diumumkan, saham Rio Tinto yang terdaftar di London telah naik 35% sejak Trott mengambil alih pada bulan Agustus 2025. Sementara saham Glencore naik 41% selama periode yang sama sejalan dengan kenaikan harga untuk bahan yang mereka produksi, khususnya tembaga.
Pertumbuhan di sektor kecerdasan buatan dan pertahanan akan meningkatkan permintaan tembaga global sebesar 50% pada tahun 2040, tetapi pasokan diperkirakan akan kurang lebih dari 10 juta metrik ton per tahun tanpa lebih banyak daur ulang dan penambangan, kata konsultan S&P Global pada hari Kamis.
Baca Juga: Reliance India Pertimbangkan Beli Minyak Venezuela Jika Diizinkan Amerika













