Rusia Kekurangan Tentara Bayaran hingga Kehilangan 4 Jet Tempur dalam 10 Hari

Selasa, 20 September 2022 | 10:05 WIB Sumber: Reuters
Rusia Kekurangan Tentara Bayaran hingga Kehilangan 4 Jet Tempur dalam 10 Hari

ILUSTRASI. Pasukan pro-Rusia berjalan di sepanjang jalan di kota pelabuhan selatan Mariupol, Ukraina, Selasa (17/5/2022). REUTERS/Alexander Ermochenko

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/LONDON. Militer Rusia tampaknya mulai kewalahan di Ukraina setelah perusahaan militer swasta andalannya, Wagner Group, melaporkan telah kekurangan tentara bayaran.

Dilansir dari Reuters, Wagner Group kini sedang berusaha merekrut lebih dari 1.500 narapidana untuk ambil bagian dalam perang Rusia di Ukraina. Sayangnya, banyak dari mereka yang menolak.

Seorang pejabat pertahanan AS yang berbicara secara anonim mencatat bahwa Wagner menderita kerugian besar di Ukraina.

Baca Juga: Tentara Bayaran Rusia Ingin Rekrut Narapidana untuk Perang Ukraina

"Informasi yang kami dapa menunjukkan bahwa Wagner telah menderita kerugian besar di Ukraina, terutama di kalangan pejuang muda dan tidak berpengalaman," ungkap pejabat tersebut.

Presiden Rusia Vladimir Putin sempat mengatakan bahwa kelompok itu tidak mewakili Rusia. Namun, Wagner memiliki hak untuk bekerja di mana saja di dunia selama mereka tidak melanggar hukum Rusia.

Bulan lalu, Pentagon melaporkan bahwa 70.000 hingga 80.000 pasukan Rusia telah menjadi korban, baik tewas maupun luka-luka, sejak invasi dimulai sekitar tujuh bulan lalu.

Baca Juga: AS Salurkan Bantuan Paket Senjata Senilai US$ 600 Juta untuk Ukraina

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Inggris pada hari Senin (19/9) melaporkan bahwa Rusia telah kehilangan setidaknya 4 jet tempur dalam 10 hari terakhir. Dengan ini, Rusia telah kehilangan 55 jet tempur sejak invasi dimulai.

Laporan intelijen Inggris menilai bahwa Angkatan Udara Rusia telah gagal memberikan dukungan udara jarak dekat kepada pasukan daratnya. Di sisi lain, militer Ukraina kini semakin kuat berkat sejumlah senjata anti-pesawat yang diterimanya dari NATO dan AS.

"Ada kemungkinan realistis bahwa beberapa pesawat telah tersesat di wilayah musuh dan ke zona pertahanan udara yang lebih padat karena garis depan bergerak cepat," kata kementerian.

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru