kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.892   22,00   0,13%
  • IDX 8.887   2,52   0,03%
  • KOMPAS100 1.233   6,78   0,55%
  • LQ45 874   7,63   0,88%
  • ISSI 325   1,00   0,31%
  • IDX30 447   5,87   1,33%
  • IDXHIDIV20 529   8,18   1,57%
  • IDX80 137   0,92   0,68%
  • IDXV30 147   2,28   1,58%
  • IDXQ30 143   1,75   1,24%

Rusia Terapkan Taktik Baru Tank untuk Memecah Kebuntuan di Ukraina


Selasa, 13 Januari 2026 / 10:23 WIB
Rusia Terapkan Taktik Baru Tank untuk Memecah Kebuntuan di Ukraina
ILUSTRASI. Tank T-14 Armata Rusia (Evgeny Biyatov/via REUTERS). Taktik tank berpasangan kini jadi andalan baru Rusia di Ukraina. Temukan bagaimana dukungan drone terus-menerus mengubah peta serangan.


Sumber: Forbes | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - MOSKWA. Meski pembicaraan damai terus berlangsung, Rusia tetap melanjutkan ofensif berskala besar untuk merebut wilayah strategis Ukraina. 

Selama setahun terakhir, serangan Rusia didominasi oleh gelombang pasukan infanteri, yang terkadang menggunakan sepeda motor, ATV, bahkan kuda. 

Armada tank Rusia, yang dulu menjadi andalan, jarang dikerahkan karena ancaman drone FPV dan bomber Ukraina.

Baca Juga: Putin Siap Kompromi? Rusia Ajukan Proposal Damai Baru untuk Akhiri Perang Ukraina

Beberapa upaya untuk mengembalikan tank ke medan tempur, seperti memasang jaring pelindung atau lapisan improvisasi, hanya memberikan hasil terbatas. 

Tanpa dukungan tank yang efektif, serangan infanteri Rusia berjalan lambat, lebih terekspos, dan rentan terhadap tembakan Ukraina, menyebabkan korban tinggi dan hasil terbatas.

Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan taktik baru untuk mengembalikan tank ke medan tempur. Dalam pendekatan ini, dua tank bergerak berpasangan dengan dukungan drone secara terus-menerus. 

Satu tank menembak dari posisi jarak jauh, sementara tank kedua melakukan manuver cepat ke garis kontak. Drone membantu koordinasi gerakan dan tembakan dengan memberikan deteksi sasaran, koreksi tembakan, dan pemantauan medan tempur. 

Baca Juga: 4 Hal yang Diinginkan Vladimir Putin dari Ukraina

Kedua tank secara bergantian menukar peran untuk menghindari menjadi sasaran tetap, sambil menembakkan daya hancur yang signifikan ke garis pertahanan lawan. Taktik ini menekankan pengacakan sensor musuh sekaligus mendorong penetrasi cepat.

Taktik ini berbeda jauh dari doktrin tank tradisional Rusia yang diwarisi dari era Soviet, di mana tank biasanya menyerang bersama artileri dalam formasi besar setelah bombardemen awal. 

Kini, konsentrasi tank yang masif dianggap terlalu berisiko karena mudah dideteksi drone dan rentan terjebak di rintangan perkotaan atau alami.

Baca Juga: Perang Aset Beku Rusia vs Uni Eropa: Bisa Picu Perang Besar Ekonomi Baru

Selain itu, peran drone menjadi sangat sentral. Selama ini, Rusia sudah mengintegrasikan drone ke dalam taktiknya, tetapi taktik baru ini bahkan menggantikan sebagian fungsi artileri dengan drone, mencerminkan tren perang modern yang didominasi teknologi udara tak berawak.

Tantangan Taktik Baru

Meski inovatif, taktik ini menghadapi sejumlah tantangan. Tank yang bergerak terpisah tetap rentan terhadap serangan drone Ukraina, yang biasanya dioperasikan dari luar jangkauan tembakan tank. Tank juga mudah terdeteksi secara visual dan akustik. 

Keamanan komunikasi antara tank dan drone, serta koordinasi dengan pasukan infanteri, sering terganggu oleh kemampuan perang elektronik Ukraina.

Logistik juga menjadi masalah besar. Tank membutuhkan bahan bakar diesel dalam jumlah besar, sementara pasokan makanan, air, dan amunisi ke garis depan kerap diserang drone Ukraina. Mengembalikan tank ke operasi ini memperberat beban logistik.

Meski demikian, taktik ini diprediksi memberi keuntungan jangka pendek bagi Rusia. Tank yang kembali digunakan bisa menambah daya tembak, memungkinkan infanteri menembus pertahanan Ukraina lebih dalam dan menahan posisi yang direbut. 

Baca Juga: Ukraina Sebut Pasukan Korea Utara Kendalikan Drone Mata-mata di Atas Wilayahnya

Dalam front sepanjang 600 mil, pasukan Rusia sejauh ini hanya mencapai sedikit kemajuan meski mengalami kerugian besar, termasuk di kota strategis seperti Pokrovsk, Kostiantynivka, Chasiv Yar, dan Toretsk.

Namun, Ukraina diperkirakan akan cepat menyesuaikan strategi. Drone akan tetap menjadi kunci, dan Ukraina kemungkinan meningkatkan rintangan seperti ranjau anti-tank, penghalang, dan parit. 

Akibatnya, taktik baru ini kemungkinan hanya menghasilkan keuntungan sementara, tanpa mengubah keseimbangan perang secara signifikan.

Baca Juga: Putin Isyaratkan Rusia Bersedia Tukar Wilayah dalam Kesepakatan dengan Ukraina

Selain itu, reintroduksi tank juga bisa menjadi upaya Rusia untuk memulihkan reputasi sebagai produsen kendaraan tempur yang efektif, setelah reputasi tersebut menurun selama perang.

Taktik tank baru Rusia menunjukkan adaptasi terhadap medan perang yang dikuasai drone sekaligus batas adaptasi itu sendiri.

Meskipun dapat meningkatkan kemampuan ofensif sementara, kerentanan pada deteksi, komunikasi, dan logistik membuat taktik ini tidak mungkin mengubah hasil jangka panjang konflik.

Selanjutnya: Malaysia Salip Thailand sebagai Negara Paling Banyak Dikunjungi Wisatawan di ASEAN

Menarik Dibaca: 5 Beasiswa Luar Negeri Tanpa IELTS, Yuk Kuliah Gratis di Jerman hingga Korea




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×