kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.913   -79,00   -0,44%
  • IDX 6.037   27,39   0,46%
  • KOMPAS100 777   3,53   0,46%
  • LQ45 595   3,08   0,52%
  • ISSI 210   1,46   0,70%
  • IDX30 331   2,54   0,77%
  • IDXHIDIV20 423   3,72   0,89%
  • IDX80 89   0,46   0,52%
  • IDXV30 115   0,93   0,82%
  • IDXQ30 108   0,61   0,57%

Saat China Pusing Alami Krisis Bayi, Ini Jurus-Jurus Jitu yang Dikeluarkan


Sabtu, 04 Maret 2023 / 04:30 WIB


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Tetapi kekurangan bayi telah mendorong provinsi-provinsi seperti Sichuan untuk mulai secara legal mengakui anak-anak yang lahir dari ibu tunggal, bagian dari dorongan Partai Komunis menuju kebijakan kependudukan yang lebih “inklusif”.

Pembela hak-hak perempuan merayakan tren ini sebagai kemenangan bagi ibu yang tidak menikah. Namun, Zhang Meng, 47, seorang ibu tunggal di Shanghai, mengatakan China terlalu lamban dalam memperluas hak-hak keluarga nontradisional.

Zhang mengetahui dirinya hamil pada tahun 2016, segera setelah putus dengan pacarnya. Dia berusia 40 tahun saat itu dan memutuskan untuk menjaga bayinya, khawatir itu mungkin satu-satunya kesempatannya untuk memilikinya.

Setelah putranya lahir, permohonan cuti hamil berbayar dan penggantian tagihan medis - yang diberikan kepada pasangan menikah - ditolak.

Dia menggugat agen lokal untuk uang tersebut. Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 2021, dia akhirnya menerima 70.000 yuan, sekitar US$ 10.200, dari pemerintah. Tapi kendala bagi perempuan seperti dia jauh melampaui kompensasi, katanya.

“Kekurangan banyak wanita, terutama ibu tunggal, bukanlah uang, tetapi perlindungan hak-hak mereka dan rasa hormat dari masyarakat,” kata Zhang.

Pembela hak-hak perempuan berpendapat bahwa upaya pemerintah untuk menaikkan tingkat kesuburan berisiko memperkuat diskriminasi terhadap perempuan.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×