Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak fluktuatif pada Selasa (15/9/2026), di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi juga membuat investor lebih berhati-hati menjelang keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Japan (BOJ).
Serangan baru kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran ke Arab Saudi pada Senin (14/9) kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Baca Juga: Kim Jong Un Dukung “Perang Suci” Putin, Korea Utara Makin Dekat dengan Rusia
Arab Saudi sebelumnya menuding kelompok yang didukung Iran di Irak sebagai pihak di balik serangan terhadap jaringan pipa minyak yang menghubungkan wilayah timur dan barat negara tersebut. Gangguan itu berpotensi menghambat hingga 4% pasokan minyak dunia.
Negara-negara Arab Teluk juga menunda pembicaraan yang sebelumnya direncanakan dengan Iran.
Kekhawatiran terhadap pasokan tersebut membuat harga minyak kembali menguat. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,27% menjadi US$102,68 per barel, sementara Brent menguat 1,21% menjadi US$106,96 per barel.
“Pasar kemungkinan akan tetap fokus pada risiko bahwa harga minyak mentah yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi dan pada akhirnya mendorong suku bunga lebih tinggi,” kata Yokoo Akihiko, analis Mitsubishi UFJ Bank, dalam sebuah catatan.
Baca Juga: Wrexham Milik Ryan Reynolds Tersandung Masalah Izin Pembangunan
Saham Asia Tertekan
Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,12%. Korea Selatan memimpin pelemahan dengan penurunan 0,25%.
Sementara itu, indeks Nikkei Jepang naik tipis 0,19% setelah sempat berada di zona merah pada awal perdagangan.
Saham-saham terkait chip bergerak beragam. Samsung Electronics turun 0,2%, sedangkan Kioxia Jepang melonjak 3,3%.
Tekanan terhadap pasar juga datang dari kekhawatiran mengenai sektor AI. Sejumlah tokoh industri teknologi sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan AI karena risiko keamanan teknologi tersebut.
Presiden AS Donald Trump justru berusaha meredam kekhawatiran tersebut. Trump menilai perlindungan yang ada di AS sudah memadai dan memperingatkan bahwa keraguan berlebihan terhadap pengembangan AI justru dapat memberikan keuntungan bagi China.
Baca Juga: Hakim AS Blokir Aturan Trump, Mahasiswa Asing Selamat dari Batas 4 Tahun
Investor Tunggu Keputusan The Fed
Fokus utama investor kini beralih ke pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dimulai pada Selasa. Pertemuan tersebut akan berlangsung selama dua hari.
Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai sekitar 90%. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak pertengahan 2023.
Morgan Stanley memperkirakan, The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu dan kembali menaikkannya pada Desember.
“Inflasi terus melambat, tetapi kejutan kenaikan baru-baru ini menunjukkan bahwa laju disinflasi lebih lambat dan kurang meyakinkan,” tulis analis Morgan Stanley.
Menurut mereka, kenaikan harga energi, kuatnya permintaan yang terkait investasi AI, kemungkinan tingkat suku bunga netral yang untuk sementara lebih tinggi, serta kekhawatiran terhadap kredibilitas bank sentral membuat risiko kini mengarah pada kebijakan moneter yang lebih ketat.
Baca Juga: CEO Nvidia Jensen Huang dan Trump Kompak Dukung Perkembangan Industri AI
Yield Obligasi AS Tembus 5%
Kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena dapat memperkuat tekanan inflasi dan membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5% dalam perdagangan Senin malam, level tertinggi sejak 2023.
Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik di atas 3,51%, level tertinggi sejak 2009. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun kembali naik ke level 3% pada Selasa.
Pasar juga menunggu keputusan BOJ. Bank sentral Jepang diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada akhir pertemuan dua hari pada Jumat.
Baca Juga: Trump Blak-blakan soal AI: Cuma Butuh Presiden "IQ Tinggi" untuk Mengawasinya
BOJ juga diperkirakan memberikan sinyal bahwa pengetatan moneter masih akan berlanjut. Kebijakan tersebut antara lain diarahkan untuk menopang yen yang sebelumnya tertekan hingga mendekati level terlemah dalam 40 tahun.
Di pasar valuta asing, indeks dolar naik tipis 0,05% menjadi 99,53. Euro melemah 0,03% ke US$1,1543, sedangkan dolar AS menguat 0,17% terhadap yen menjadi 154,61 yen.
Di pasar komoditas, harga emas spot turun 0,15% menjadi US$4.291,59 per ons troi. Harga perak spot juga melemah 0,31% menjadi US$63,03 per ons troi.














