CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.553   24,00   0,14%
  • IDX 6.668   -9,72   -0,15%
  • KOMPAS100 877   0,42   0,05%
  • LQ45 663   -1,70   -0,26%
  • ISSI 234   0,16   0,07%
  • IDX30 368   -1,23   -0,33%
  • IDXHIDIV20 456   -0,60   -0,13%
  • IDX80 100   0,06   0,06%
  • IDXV30 128   0,61   0,48%
  • IDXQ30 118   -0,48   -0,41%

Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Tembus US$100 dan Picu Inflasi


Kamis, 10 September 2026 / 11:05 WIB
Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Tembus US$100 dan Picu Inflasi
ILUSTRASI. Bursa saham Asia bergerak melemah pada Kamis (10/9), seiring meningkatnya serangan terhadap jalur pelayaran dalam konflik di Timur Tengah (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (10/9/2026), seiring meningkatnya serangan terhadap jalur pelayaran dalam konflik yang meluas di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah bertahan di atas US$100 per barel dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi.

Di saat yang sama, pelaku pasar tengah menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun relatif stabil di level 4,8406%. Sebelumnya, yield tersebut sempat menyentuh level tertinggi sejak 2023 pada perdagangan Rabu (9/9/2026).

Departemen Keuangan AS juga mengumumkan program pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang senilai US$6 miliar. Namun, langkah tersebut mengecewakan sebagian investor yang berharap pemerintah AS melakukan pembelian kembali dalam jumlah lebih besar.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent berjangka naik tipis menjadi sekitar US$101,4 per barel pada awal perdagangan Kamis. Harga Brent sebelumnya berhasil menembus level psikologis US$100 per barel pada Rabu untuk pertama kalinya sejak Juli.

Baca Juga: Nvidia Berencana Melakukan Perluasan Besar-besaran Kapasitas Pusat Data di Australia

Kenaikan harga minyak tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi global.

"Saya pikir Brent yang menembus level US$100 akan dipandang oleh banyak pelaku pasar sebagai peristiwa penting dalam kondisi saat ini," kata Nick Twidale, chief market strategist di ATFX Global.

Menurut Twidale, imbal hasil obligasi global berpotensi bergerak lebih tinggi karena pasar mulai menyesuaikan diri dengan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

"Pergerakan ini sekarang mungkin meyakinkan sejumlah pelaku pasar yang sebelumnya menahan diri untuk mengambil posisi tertentu dengan harapan adanya kesepakatan damai di Timur Tengah, untuk akhirnya mengambil keputusan karena realitas konflik yang berlangsung lebih lama mulai terlihat," ujarnya.

Bursa Asia Melemah

Tekanan terhadap pasar saham terlihat di berbagai bursa utama Asia. Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun sekitar 1%.

Indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan juga masing-masing melemah lebih dari 1%.

"Pasar menghadapi kombinasi tekanan pada September, yang secara historis bukan merupakan bulan musiman terbaik bagi pasar saham," kata Vasu Menon, managing director of investment strategy di OCBC.

Baca Juga: Trump Janjikan Dividen US$5.000 untuk Warga AS Jika Republik Menang Pemilu

Selain ketegangan di Timur Tengah, investor juga mencermati pergerakan yield obligasi dan prospek kebijakan suku bunga bank sentral global.

Konflik Timur Tengah Makin Meluas

Konflik di Timur Tengah semakin mendapat perhatian setelah terjadi eskalasi pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.

Perkembangan tersebut membuka potensi terbentuknya medan konflik kedua yang dapat mengancam pasokan energi global dari kawasan Timur Tengah. Konflik yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Kenaikan harga minyak dan tingginya yield obligasi semakin menekan sentimen investor. Kondisi ini terjadi menjelang serangkaian pertemuan bank sentral yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Euro bergerak relatif stabil di sekitar US$1,16322 menjelang keputusan kebijakan European Central Bank (ECB). Pasar memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga, meskipun perhatian investor diperkirakan lebih tertuju pada pernyataan para pembuat kebijakan untuk membaca arah kebijakan selanjutnya.

Sementara itu, The Fed dan Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada pekan depan.

Data Inflasi AS Jadi Perhatian

Investor juga menunggu data inflasi produsen dan inflasi konsumen AS yang masing-masing akan dirilis pada Kamis dan Jumat.

Data tersebut diperkirakan memainkan peran penting dalam menentukan keputusan The Fed pada pertemuan kebijakan 15-16 September.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan sekitar 60%, berdasarkan harga kontrak berjangka federal funds.

"Pasar obligasi berada di bawah tekanan karena harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Namun, bukan hanya minyak yang harus kita perhatikan," kata Prashant Newnaha, senior rates strategist di TD Securities.

Baca Juga: Harga Emas Naik Ditopang Pelemahan Dolar, Pasar Tunggu Data Inflasi AS

Menurut dia, harga komoditas pertanian juga mulai mengalami kenaikan dan berpotensi meningkatkan kontribusi harga pangan terhadap inflasi konsumen atau CPI dalam beberapa bulan mendatang.

"Setidaknya, kondisi ini membuat CPI utama berpotensi tetap tinggi hingga awal 2027," ujarnya.

Penguatan Yen Bergantung pada Sikap BOJ

Pergerakan yen Jepang juga menjadi perhatian pasar menjelang pertemuan BOJ pekan depan.

BOJ secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga. Namun, analis menilai komunikasi dari para pejabat BOJ perlu menunjukkan sikap hawkish agar penguatan yen yang terjadi baru-baru ini dapat berlanjut.

Yen berada di level 153,63 per dolar AS setelah menguat sekitar 4% sepanjang September.

Penguatan mata uang Jepang tersebut didorong oleh meningkatnya ekspektasi bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga lebih cepat, aksi pelaku pasar yang menutup posisi short terhadap yen, serta indikasi awal adanya potensi repatriasi modal dari Jepang.

"Kegagalan untuk menaikkan suku bunga, disertai tidak adanya sinyal yang lebih jelas mengenai percepatan pengetatan kebijakan pada pekan depan, kemungkinan akan memicu pelemahan tajam yen kembali," kata Carol Kong, currency strategist di Commonwealth Bank of Australia.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×