Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - SEOUL. Samsung Electronics memproyeksikan laba operasi pada kuartal IV 2025 melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring melonjaknya permintaan chip memori akibat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dalam keterbukaan kepada regulator pada Kamis (8/1/2026), Samsung memperkirakan laba operasi periode Oktober–Desember mencapai 20 triliun won atau sekitar US$ 13,82 miliar.
Angka ini melampaui estimasi konsensus LSEG SmartEstimate sebesar 18 triliun won, serta jauh di atas capaian 6,49 triliun won pada kuartal IV 2024.
Capaian tersebut menjadi rekor laba operasi kuartalan tertinggi sepanjang sejarah Samsung, melampaui rekor sebelumnya sebesar 17,6 triliun won pada kuartal III 2018.
Baca Juga: Rekomendasi Saham Kuartal IV 2025, Apa Saja Stockpick Kiwoom Sekuritas?
Lonjakan laba ini mencerminkan meroketnya harga chip memori, di tengah pasokan yang ketat dan meningkatnya kebutuhan chip untuk pusat data, komputer pribadi, dan perangkat mobile yang menopang teknologi AI.
Meski kinerja keuangan menguat, saham Samsung justru ditutup melemah 1,6% setelah sempat naik hingga 2,5% ke level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan sebelumnya.
Investor dinilai mulai merealisasikan keuntungan setelah saham Samsung melesat sekitar 155% dalam setahun terakhir.
Permintaan Chip Kian Ketat
Produsen chip memori utama dunia, termasuk SK Hynix dari Korea Selatan dan Micron Technology dari Amerika Serikat, saat ini kesulitan mengejar lonjakan permintaan dan harus menambah kapasitas pabrik.
Baca Juga: XPeng Prediksi Pendapatan Kuartal IV Melemah di Tengah Perang Harga EV China
CEO Nvidia Jensen Huang menyebut pertumbuhan AI mendorong kebutuhan fasilitas manufaktur semikonduktor baru.
“Dunia membutuhkan lebih banyak pabrik chip karena munculnya industri baru yang disebut AI factories,” ujarnya di ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas.
Riset Macquarie Equity Research memperkirakan nilai pasar DRAM global akan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$311 miliar pada 2026. Angka ini hampir enam kali lipat dibandingkan ukuran pasar pada 2023.













