kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.404.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.245
  • IDX 7.314   -8,12   -0,11%
  • KOMPAS100 1.146   -0,08   -0,01%
  • LQ45 923   0,02   0,00%
  • ISSI 219   1,20   0,55%
  • IDX30 461   -1,29   -0,28%
  • IDXHIDIV20 553   -2,77   -0,50%
  • IDX80 129   0,20   0,16%
  • IDXV30 130   -1,13   -0,86%
  • IDXQ30 155   -0,81   -0,52%

Sektor pertanian global tertekan akibat kenaikan harga solar


Sabtu, 19 Mei 2018 / 06:05 WIB
Sektor pertanian global tertekan akibat kenaikan harga solar


Reporter: Rizki Caturini | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Kenaikan harga minyak dunia menekan sektor pertanian di berbagai negara. Maklum, seiring kenaikan harga minyak bumi, harga bahan bakar solar ikut naik. Padahal bahan bakar merupakan salah satu komponen besar dalam pengeluaran sektor pertanian. Tak pelak, margin petani pun tergerus. Celakanya, hal ini terjadi di musim panen raya yang membuat harga jual komoditas jatuh. Untuk bertahan, petani pun melakukan penghematan pupuk dan pengurangan pegawai.

Patokan harga minyak global, yakni Brent telah menyentuh US$ 80 per barel pada Kamis (17/5) lalu. Ini adalah harga Brent tertinggi dalam empat tahun terakhir. Dampaknya telah dirasakan para petani di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat (AS), Rusia, Brasil hingga Eropa. Biaya produksi pertanian mereka meningkat akibat naiknya harga bahan baku solar mengekor kenaikan harga Brent.

Bahan bakar menyumbang sekitar 5% dari total pengeluaran sektor pertanian di AS. Kenaikan harga solar membuat margin para petani terpangkas hingga setengahnya jika dibandingkan dengan tahun 2013. Posisis petani kian terjepit, sebab pada saat sama, ada panen raya yang membuat pasokan melimpah dan harga komoditas pertanian seperti jagung, gandum, dan kedelai anjlok.

Bahan bakar solar menjadi hal utama bagi petani untuk aktivitas penanaman, panen dan pengiriman hasil panen ke pasar. Data Departemen Pertanian AS menunjukkan, para petani di AS menghabiskan sekitar US$ 15,25 miliar untuk bahan bakar dalam setahun di 2018, naik 8% dibanding 2017.

Ron Heck, petani yang menanam kedelai di Iowa mengatakan, biaya bahan bakar bisa naik US$ 1.000 hingga US$ 2.000 selama musim semi. "Kenaikan harga itu langsung sangat terasa," ujar Heck.

Adapun sektor peternakan AS juga memperhitungkan potensi kerugian pendapatan karena pajak 25% yang dikenakan China terhadap impor utama Amerika. Hal ini dilakukan China sebagai balasan langkah pemerintah AS mengenakan bea masuk baja dan aluminium kepada China.

Kami melihat tekanan keuangan yang terjadi di bidang pertanian yang mungkin belum pernah kami lihat selama satu dekade atau lebih. Jika harga solar terus naik, itu terus memberi tekanan lebih pada petani, kata Scott Brown, Direktur Kemitraan Strategis di Sekolah Tinggi Pertanian, Makanan, dan Sumber Daya Alam Universitas Missouri.

Departemen Pertanian AS memperkirakan pendapatan bersih sektor pertanian AS akan menurun 8,3% menjadi US$ 59,5 miliar pada 2018 dibandingkan tahun 2017. Penurunan pendapatan mencapai 55% kalau dihitung sejak 2013.

Sementara di Rusia, seperti dikatakan Arkady Zlochevsky, Kepala Asosiasi Pertanian Rusia, kepada Reuters, harga bahan bakar untuk pertanian telah naik 50% dibandingkan dengan tahun lalu. Padahal petani masih membutuhkan lebih banyak bahan bakar sebelum panen yang berlangsung sekitar satu bulan di Rusia.

Di Brasil, harga solar telah naik hingga 43% sejak Juli 2017. Eder Ferreira Bueno, seorang petani di negara itu mengatakan, tidak ada pilihan lain bagi para petani selain menghemat penggunaan pupuk untuk tanamannya. Bahkan ada pula petani yang terpaksa mengurangi jumlah pekerja atau menunda rencana investasi.




TERBARU
Kontan Academy
[ntensive Boothcamp] Business Intelligent with Ms Excel Pre-IPO : Explained

[X]
×