kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   -50.000   -1,72%
  • USD/IDR 17.110   58,00   0,34%
  • IDX 7.308   28,38   0,39%
  • KOMPAS100 1.009   3,07   0,31%
  • LQ45 734   0,28   0,04%
  • ISSI 264   3,48   1,33%
  • IDX30 393   -5,78   -1,45%
  • IDXHIDIV20 480   -6,76   -1,39%
  • IDX80 114   0,27   0,24%
  • IDXV30 133   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 127   -1,85   -1,43%

Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok di Bawah 10%


Kamis, 09 April 2026 / 20:53 WIB
Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok di Bawah 10%
ILUSTRASI. Kapal di Teluk dekat Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz nyaris terhenti setelah Iran meminta kapal-kapal yang melintas untuk mengikuti rute melalui perairan teritorialnya.

Hingga Kamis (9/4/2026), volume kapal yang melintas tercatat kurang dari 10% dari kondisi normal.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (AS) Kuartal IV 2025 Direvisi Turun Jadi 0,5%

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menginstruksikan kapal agar melewati jalur tertentu saat melintasi selat strategis tersebut, seiring masih tingginya ketidakpastian di tengah gencatan senjata sementara selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Salah satu perusahaan pelayaran besar Jepang, Mitsui O.S.K. Lines mengaku masih mencermati dampak situasi ini terhadap operasional mereka.

Presiden dan CEO Mitsui O.S.K. Lines, Jotaro Tamura mengatakan, pihaknya perlu memastikan risiko keamanan sudah cukup rendah sebelum melanjutkan aktivitas normal.

Perusahaan tersebut telah berhasil mengeluarkan tiga kapal tanker dari Selat Hormuz, terdiri dari satu kapal bermuatan gas alam cair (LNG) dan dua kapal yang mengangkut gas minyak cair (LPG).

Namun, perusahaan masih menunggu arahan dari pemerintah Jepang terkait langkah selanjutnya selama masa gencatan senjata.

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik Tipis, The Fed Makin Pede Tahan Suku Bunga

Rute Larak Jadi Alternatif

IRGC meminta kapal untuk berlayar melalui perairan Iran di sekitar Pulau Larak guna menghindari risiko ranjau laut di jalur utama Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, kapal diminta masuk melalui sisi utara Pulau Larak dan keluar dari sisi selatannya, dengan koordinasi bersama angkatan laut IRGC.

Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey memperingatkan bahwa risiko tetap tinggi, terutama bagi kapal yang tidak memiliki izin atau yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.

Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah kapal yang telah mendapat persetujuan tetap dipaksa berbalik saat sedang melintas.

Baca Juga: Emas Menguat Seiring Dolar Melemah dan Ketegangan Timur Tengah Terus Berlanjut

Lalu Lintas Sangat Minim

Data pelacakan kapal menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari.

Kapal yang melintas terdiri dari satu tanker produk minyak dan lima kapal kargo curah. Selain itu, satu kapal tanker kimia dijadwalkan melintas dengan tujuan India.

Analis dari Verisk Maplecroft Torbjorn Soltvedt menilai, kehati-hatian pelaku industri pelayaran masih akan tinggi.

Menurutnya, masa gencatan senjata selama dua pekan tidak cukup untuk mengurai antrean kapal yang tertahan.

Saat ini, lebih dari 180 kapal tanker yang membawa sekitar 172 juta barel minyak mentah dan produk olahan masih tertahan di kawasan Teluk, berdasarkan data Kpler.

Baca Juga: Persidangan Korupsi PM Israel Netanyahu Kembali Digelar pada Minggu Ini

Isu Pungutan Biaya

Sejumlah laporan menyebut Iran berpotensi mengenakan biaya hingga US$ 2 juta bagi kapal yang melintas. Beberapa kapal bahkan mulai mengambil rute tidak biasa melalui Pulau Larak.

Namun, seorang perwira kapal tanker LPG berbendera India, Pine Gas, menyatakan kapalnya tidak dikenakan biaya saat melintas dan tidak diperiksa oleh IRGC.

Para pemimpin Barat menolak rencana pungutan tersebut. CEO perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, menegaskan bahwa Selat Hormuz harus dibuka tanpa syarat.

Baca Juga: Chevron Proyeksi Pendapatan Hulu Naik US$ 2,2 Miliar Imbas Kenaikan Harga Minyak

India Longgarkan Aturan

Dalam upaya mempercepat pasokan energi, India memberikan kelonggaran bagi kapal yang membawa kargo Iran, termasuk kapal tua dan yang terkena sanksi internasional, untuk masuk ke pelabuhan mereka.

Sebagai importir LPG terbesar kedua di dunia, India saat ini menghadapi krisis gas terburuk dalam beberapa dekade, sehingga pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan untuk menjaga pasokan bagi rumah tangga.

Baca Juga: Israel Luncurkan Serangan Baru ke Lebanon, Gencatan Senjata AS-Iran Terancam

Ekspor Iran Tetap Berjalan

AS sebelumnya memberikan pengecualian sementara terhadap ekspor minyak Iran hingga 19 April guna menjaga pasokan global dan meredam kenaikan harga energi.

Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, harga minyak dunia telah melonjak sekitar 50%, sementara harga bensin di AS telah menembus US$ 4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Dalam 24 jam terakhir, satu tanker minyak dan satu kapal pengisian bahan bakar berbendera Iran tercatat melintasi Selat Hormuz.

Sejak akhir Februari, setidaknya 23 kapal tanker Iran telah mencapai Asia, menunjukkan ekspor tetap berjalan relatif stabil meski konflik berlangsung.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kontan & The Jakarta Post Executive Pass

[X]
×