Sumber: Channel News Asia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Singapura kemungkinan akan terdampak tarif baru Amerika Serikat sebesar 15% untuk seluruh impor, demikian disampaikan Deputi Perdana Menteri Gan Kim Yong pada Minggu (22/2/2026).
Ia mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk bersiap menghadapi perubahan mendasar dalam lanskap perdagangan global.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif global dari 10% menjadi 15%. Hingga kini, Washington belum merinci mekanisme penerapan tarif tersebut.
Baca Juga: Bursa Australia Turun Terseret Tarif AS, Saham Teknologi dan Energi Tertekan
“Kita perlu mempersiapkan diri untuk jangka panjang. Ini adalah dunia baru yang sedang kita hadapi,” ujar Gan saat wawancara media di One Punggol Community Centre dilansir dari laman Channelnewsasia Senin (23/2/2026).
Ia menegaskan bahwa tinjauan strategi ekonomi Singapura akan berperan penting dalam memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi nasional.
Putusan Mahkamah Agung dan Respons Gedung Putih
Pada Jumat lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif “Liberation Day” yang diberlakukan Trump, dengan alasan Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) tidak memberi wewenang tersebut.
Sebagai respons, Gedung Putih menggunakan Section 122 dari Trade Act 1974 untuk memberlakukan tarif global 10% selama 150 hari mulai 24 Februari, sebelum kemudian diumumkan kenaikan menjadi 15%.
Baca Juga: Militer Meksiko Tewaskan Bos Kartel “El Mencho” dalam Operasi yang Didukung AS
Section 122 memungkinkan presiden AS mengenakan tarif sementara hingga maksimal 15% selama 150 hari guna mengatasi defisit neraca pembayaran yang serius.
Beberapa produk dikecualikan dari tarif baru ini, termasuk energi, farmasi dan bahan aktif farmasi, sebagian produk elektronik dan kedirgantaraan, serta logam untuk mata uang dan bullion.
Semikonduktor dan farmasi juga berpotensi berada di bawah skema tarif terpisah (Section 232) yang belum diterapkan.
Singapura Minta Kejelasan
Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) menyatakan tengah memantau perkembangan dan akan meminta kejelasan dari otoritas AS, termasuk soal kemungkinan mekanisme pengembalian tarif (refund).
Berdasarkan data Biro Sensus AS, Amerika mencatat surplus perdagangan barang sebesar US$3,6 miliar dengan Singapura pada 2025, meningkat dari US$1,9 miliar pada 2024.
Baca Juga: Bursa Asia Tertahan Senin (23/2), Dolar Melemah di Tengah Kebingungan Tarif AS
Dampak dan Strategi ke Depan
Gan mengatakan dampak tarif akan bergantung pada detail implementasi dan respons global. Jika tarif diterapkan secara menyeluruh, maka daya saing relatif antarnegara tidak banyak berubah dan peluang bisnis dengan AS masih terbuka.
Namun, ia mengingatkan bahwa tarif berarti biaya global lebih tinggi, yang dapat memperlambat investasi dan perdagangan.
Ketidakpastian menjadi faktor paling krusial, terutama dengan batas waktu 150 hari dalam Section 122 yang memungkinkan perubahan kebijakan sewaktu-waktu.
Gan juga menekankan bahwa Singapura tidak seharusnya berasumsi akan terbebas dari struktur tarif tersebut. “Lebih baik kita menerima kenyataan bahwa kita harus hidup dengan dunia yang tidak pasti ini,” ujarnya.
Jika tarif 15% diterapkan, ruang negosiasi untuk pengecualian akan sangat terbatas, terutama bila kebijakan berlaku global.
Baca Juga: Investor Ed Garden Bangun Kepemilikan di Fortune Brands dan Dorong Pergantian CEO
Karena itu, Singapura perlu mencari alternatif seperti memperluas pasar baru, meningkatkan produk bernilai tambah tinggi, dan fokus pada sektor yang berpotensi mendapat pengecualian dari AS.
MTI menyatakan pemerintah akan bekerja sama dengan mitra tripartit dan industri melalui Singapore Economic Resilience Taskforce untuk memberikan informasi terkini serta mengumpulkan masukan dari pelaku usaha dan pekerja.
Sejumlah langkah dukungan dalam Anggaran 2026 juga disiapkan, termasuk rabat pajak penghasilan badan dan dukungan ekspansi luar negeri bagi perusahaan.
Pemerintah menyebut langkah tersebut cukup untuk meredam dampak jangka pendek, meski tetap diperlukan kewaspadaan terhadap volatilitas global.
Terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi, Gan menyatakan pemerintah akan meninjau ulang dan merevisi bila diperlukan.
Saat ini, ekonomi Singapura diperkirakan tumbuh 2%–4% tahun ini, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 1%–3%.












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)