Sinyal Perbaikan Krisis Pangan, Harga Gandum Sentuh Level Terendah dalam 14 Bulan

Kamis, 08 Desember 2022 | 14:24 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Sinyal Perbaikan Krisis Pangan, Harga Gandum Sentuh Level Terendah dalam 14 Bulan

ILUSTRASI. Harga gandum global telah mencapai level terendah dalam 14 bulan terakhir. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


KONTAN.CO.ID - TOKYO. Krisis pangan yang menjadi salah satu biang kerok kenaikan inflasi mulai menunjukkan sinyal perbaikan. Salah satu indikasinya, harga gandum global telah mencapai level terendah dalam 14 bulan terakhir. 

Ini terjadi berkat ekspor gandum yang berlebih dari Rusia bisa memicu harapan untuk mengakhiri lonjakan biaya makanan. 
Mengutip Nikkei ASia pada Kamis (8/12) harga benchmark berjangka gandum Chicago turun untuk sesi keempat berturut-turut pada hari Selasa, mencapai level terendah US$ 7,23 per gantang. 

Harga itu turun 9% dibandingkan akhir November lalu. Padahal, tak lama setelah Rusia menginvasi Ukraina, harganya mencapai level tertinggi US$ 13 per gantang pada Maret lalu. 

Baca Juga: Harga Komoditas Menukik, Prospek Saham Konsumer Masih Ciamik

Pergeseran harga itu terjadi saat Rusia meningkatkan ekspor ketika musim panen yang membuat negeri beruang merah itu kelebihan stok domestik. Rusia mengekspor lebih dari 4 juta ton gandum melalui jalur laut pada bulan Oktober dan November. 

Jumlah itu hampir 40% dari pengiriman global selama bulan-bulan tersebut, menurut Refinitiv. Sedangkan pengiriman gandum Rusia pada Agustus dan September berada di kisaran 3 juta ton.

"Rusia telah menarik lebih banyak perhatian untuk produksi biji-bijiannya sejak krisis Ukraina dimulai," kata Toru Nishihama, kepala ekonom di Dai-ichi Life Research Institute.

Ekspor gandum Rusia akan naik sekitar 20% ke rekor tertinggi untuk tahun pemasaran 2022-2023, menurut proyeksi dari Departemen Pertanian AS. Rusia melihat panen yang kuat di musim panas dan musim gugur tidak seperti AS dan Eropa, di mana kekeringan dan gelombang panas menekan hasil panen

Gandum Rusia memang lebih murah daripada gandum Amerika Utara. Sehingga menjadikannya pilihan yang menarik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Banyak negara di kawasan ini juga cenderung lebih bersimpati terhadap Moskow.

"Bagi Rusia, gandum lebih merupakan alat untuk meningkatkan kehadiran internasionalnya daripada sumber dorongan ekonomi," kata Nishihama.

Gandum menyumbang sekitar 3% dari ekspor Rusia pada tahun 2020, dibandingkan dengan sekitar 20% untuk minyak mentah, menurut Observatory of Economic Complexity, sebuah platform data online.

Baca Juga: Granola Aman dan Sehat Dimakan Secara Rutin?

Kekhawatiran kekurangan gandum telah mencengkeram pasar global hingga November karena panen AS dan Eropa menderita. Persediaan di negara pengekspor turun ke level terendah dalam 10 tahun. 

“Tapi gandum Rusia sekarang dapat menutupi kekurangannya," kata Hideki Hattori, kepala analis di perusahaan penggilingan Jepang Nippon, menggemakan harapan yang berkembang dalam industri tersebut.

Efeknya sudah mulai terlihat. Indeks harga pangan yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) telah turun selama delapan bulan berturut-turut hingga November. Indeks harga sereal juga menurun.

Menurut FAO, harga gandum dunia telah berkurang sebagian karena persaingan yang lebih besar di pasar global dengan peningkatan pengiriman dari Federasi Rusia.

"Kisaran tujuh dolar masih tinggi untuk gandum, tetapi inflasi makanan sepertinya tidak akan memburuk lebih lanjut," kata Ruan Wei, kepala peneliti di Norinchukin Research Institute di Tokyo.

Gandum Ukraina, yang merupakan 9% dari pasar global, juga terus diekspor. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Turki menengahi kesepakatan pada bulan Juli untuk memberikan kapal yang membawa biji-bijian Ukraina keluar dari Laut Hitam dengan aman. Inisiatif biji-bijian menerima perpanjangan 120 hari pada pertengahan November.

Sejak Agustus, ketika ekspor dilanjutkan, lebih dari 12 juta ton produk pertanian Ukraina dikirim melalui Laut Hitam. Gandum menyumbang 30% dari volume.

Pada akhir Oktober, Rusia secara sepihak mundur dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam, mengutip serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap kapal-kapal Rusia. Moskow kembali ke inisiatif pada bulan November.

Baca Juga: Rusia Bersedia Menyediakan Biji-Bijian Kepada Negara Miskin Secara Gratis

"Rusia memproduksi gandum dengan maksud untuk mengekspornya. Mereka mulai percaya bahwa memblokir ekspor Ukraina akan mengakibatkan tindakan keras dari negara lain, yang akan merugikan ekspor mereka sendiri,” kata Kenji Nagatomo, pemimpin penelitian di Policy Research Institute di bawah Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang. 

Sekarang kekhawatiran pasokan telah mereda, pedagang spekulatif telah berbalik bearish pada gandum. Posisi spekulan gandum mencapai 33.305 kontrak negatif bersih pada akhir November, menurut data dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS, yang merupakan margin terbesar dari kontrak bersih sejak pertengahan Mei 2019.

Secara khusus, spekulan meningkatkan net short position mereka sekitar 5.000 kontrak selama tiga minggu berturut-turut sejak pertengahan November. Pedagang yakin masuknya gandum Rusia akan terus membebani pasar.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru