Studi baru: Virus corona berkembang lebih baik di udara, masker tak boleh longgar

Senin, 20 September 2021 | 13:18 WIB Sumber: Kompas.com
Studi baru: Virus corona berkembang lebih baik di udara, masker tak boleh longgar

ILUSTRASI. Warga memakai masker pelindung, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), berjalan di sebuah distrik perbelanjaan di Tokyo, Jepang, Kamis (9/9/2021). REUTERS/Kim Kyung-Hoon.


KONTAN.CO.ID - Sebuah studi terbaru menemukan, virus corona baru berkembang lebih baik saat menjadi airborne. Hal itu meningkatkan kekhawatiran masker yang longgar hanya memberikan "kontrol sederhana" melawan infeksi. 

Melansir CTV News, studi yang dipimpin Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Maryland menunjukkan, virus telah bergerak menuju "generasi aerosol yang lebih efisien". 

Para peneliti mengatakan, hal itu berarti, langkah-langkah kesehatan akan diperlukan untuk melindungi mereka yang bekerja di tempat umum dan di dalam ruangan, sampai tingkat vaksinasi mencapai tahap "sangat tinggi". 

Selain vaksin, perlu peningkatan ventilasi, filtrasi, sanitasi udara UV, dan masker yang lebih ketat. Studi ini diterbitkan pada 14 September 2021 di jurnal medis peer-review Clinical Infectious Diseases. 

Hasil studi baru tersebut juga memperlihatkan, orang yang terinfeksi varian Alpha mengeluarkan 43 hingga 100 kali lebih banyak virus ke udara ketika mereka bernafas dibanding yang terpapar jenis virus corona asli. 

Baca Juga: Kelelawar Kamboja kembali diteliti terkait asal-usul virus corona penyebab Covid-19

Studi ini mencatat, varian Alpha adalah strain dominan yang beredar selama periode penelitian.

Don Milton, Profesor kesehatan lingkungan di University of Maryland mengatakan, temuan itu memberikan bukti lebih lanjut bahwa penularan Covid-19 terutama melalui udara.

Virus menyebar dari hidung dan mulut orang yang terinfeksi melalui semprotan droplets (tetesan) besar, ketika berada dalam jarak dekat. 

“Kita tahu bahwa varian Delta yang beredar sekarang bahkan lebih menular dari varian Alpha. Penelitian kami menunjukkan, varian tersebut terus menjadi lebih baik dalam perjalanan melalui udara, jadi kami harus menyediakan ventilasi yang lebih baik dan memakai masker yang pas, selain itu vaksinasi, untuk membantu menghentikan penyebaran virus," kata Milton. 

Para peneliti juga menemukan, jumlah virus di udara yang berasal dari infeksi varian Alpha adalah 18 kali lebih banyak dari jumlah virus yang ditemukan di usap hidung (nasal swabs) dan air liur. 

Baca Juga: Kondisi ini menandakan Anda terinfeksi Virus Corona

Selain itu, para peneliti menemukan, penutup wajah secara signifikan mengurangi jumlah virus yang diembuskan ke udara dari mereka yang terinfeksi Covid-19 sekitar 50%. 

Tetapi, kain longgar dan masker bedah tidak bisa sepenuhnya mencegah partikel virus dari udara. 

Mengutip Times of India, cara paling efektif untuk melindungi diri dari aerosol berbahaya adalah menghindari tempat ramai dan menjaga jarak sosial. 

Kemudian, menghindari ruangan dengan ventilasi yang sedikit atau tidak ada sama sekali, dan pakai masker dengan baik setiap saat. 

"Bila digunakan dengan benar, pembersih udara dapat membantu mengurangi kontaminan di udara, termasuk virus, di rumah atau ruang terbatas," ungkap Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC). 

Terakhir, prioritaskan vaksinasi karena bisa menghindari infeksi parah dan mengurangi risiko rawat inap.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Studi: Virus Corona Berkembang Baik di Udara, Masker Longgar Rawan Tembus"

Penulis: Nur Fitriatus Shalihah
Editor: Rendika Ferri Kurniawan

Selanjutnya: Bell's Palsy hingga anafilaksis, ini efek samping serius vaksin Sinovac

 

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Halaman   1 2 Tampilkan Semua
Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru