Sumber: Visual Capitalist | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Dengan kepemilikan sekitar US$ 1,2 triliun, Jepang saat ini menjadi pemegang utang AS terbesar di dunia.
Pada 2019, Jepang menyalip China sebagai pemegang terbesar. Ini menjadi perubahan besar dibanding satu dekade sebelumnya, ketika China menguasai hampir US$ 1,3 triliun obligasi AS. Sejak itu, kepemilikan China hampir terpangkas setengah, sementara kepemilikan Jepang meningkat lebih moderat, naik sekitar US$ 61 miliar dalam periode yang sama.
Inggris menempati posisi kedua dengan US$ 888,5 miliar utang AS. Dalam 12 bulan terakhir, kepemilikan ini meningkat dua digit, pola yang juga terlihat di sejumlah negara Eropa lain seperti Belgia, Prancis, dan Norwegia.
Sebaliknya, negara-negara BRICS justru melakukan aksi jual signifikan. Kepemilikan Brasil turun 27%, lebih besar dibanding penurunan India 20% dan China 11%.
Tonton: Prabowo Klaim Keberhasilan Program MBG Capai 99,9 Persen
Pada saat yang sama, porsi emas dalam cadangan devisa bank sentral global melampaui US Treasuries pada akhir 2025, untuk pertama kalinya sejak 1996.
Meski permintaan terhadap obligasi AS dipengaruhi banyak faktor kompleks, tahun 2025 menunjukkan perbedaan yang makin jelas. Negara-negara sekutu tradisional AS terus menambah kepemilikan, sementara negara lain semakin melakukan diversifikasi, yang kemungkinan mencerminkan pertimbangan geopolitik yang semakin kuat.













