Sumber: Al Jazeera | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tesla melaporkan penurunan pendapatan tahunan untuk pertama kalinya, di tengah padatnya musim rilis kinerja emiten global yang juga diwarnai laporan kuat dari Microsoft, Meta, dan Samsung Electronics.
Perusahaan mobil listrik milik Elon Musk tersebut mengumumkan pada Rabu bahwa pendapatan kuartal IV 2025 turun 3% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$ 24,9 miliar. Sepanjang 2025, pendapatan Tesla tercatat US$ 94,8 miliar, turun dari US$ 97,7 miliar pada 2024.
Penurunan kinerja lebih tajam terlihat pada sisi laba. Laba bersih Tesla anjlok 61% yoy menjadi US$ 840 juta pada kuartal terakhir 2025. Secara tahunan, laba perusahaan menyusut signifikan menjadi US$ 3,8 miliar, dibandingkan US$ 7,1 miliar pada 2024.
Tesla yang berbasis di Austin, Texas, juga mengungkapkan rencana investasi sebesar US$ 2 miliar ke perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) milik Musk, xAI, pengembang chatbot Grok. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Tesla untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis otomotif.
Baca Juga: Kanada Longgarkan Tarif EV China, Tesla Siap Rebut Keuntungan
Dalam laporan kinerjanya, Tesla menyatakan bahwa investasi tersebut, bersama kerangka kerja sama yang disepakati, ditujukan untuk meningkatkan kemampuan Tesla dalam mengembangkan dan menerapkan produk serta layanan AI ke dunia fisik dalam skala besar.
Saham Tesla merespons positif kabar ini dengan kenaikan sekitar 2,2% pada perdagangan setelah jam bursa (after-hours trading).
Meta, Microsoft, dan Samsung Bukukan Kinerja Kuat
Pada hari yang sama, raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Meta, dan Samsung Electronics melaporkan kinerja keuangan yang solid.
Meta, induk Facebook dan Instagram, membukukan laba US$ 22,8 miliar dari pendapatan US$ 59,9 miliar pada periode Oktober–Desember 2025, naik 6% yoy. Saham Meta melonjak hampir 7% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Microsoft melaporkan lonjakan laba 60% menjadi US$ 38,5 miliar pada kuartal terakhir, dengan pendapatan mencapai US$ 81,3 miliar.
CEO Microsoft Satya Nadella menyatakan bahwa perusahaan masih berada pada tahap awal adopsi AI secara luas, namun Microsoft telah berhasil membangun bisnis AI yang nilainya melampaui beberapa lini bisnis utamanya.
Baca Juga: Tesla Akhirnya Setuju untuk Lakukan Mediasi Atas Gugatan Pelecehan Rasial Karyawan
“Kami mendorong batas inovasi di seluruh tumpukan AI untuk menciptakan nilai baru bagi pelanggan dan mitra kami,” ujar Nadella.
Namun, di balik kinerja kuat tersebut, pengumuman belanja modal (capital expenditure/capex) Microsoft yang menembus rekor US$ 37,5 miliar pada kuartal kedua memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gelembung investasi AI. Kekhawatiran ini membuat saham Microsoft terkoreksi lebih dari 6% pada perdagangan after-hours.
Sementara itu, Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar di dunia, melaporkan laba 20,1 triliun won (US$ 13,98 miliar) dari pendapatan 93,8 triliun won (US$ 65,6 miliar). Kinerja ini melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.












