Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Namun, pada tahun lalu, AS melakukan pengerahan besar-besaran menjelang serangan terhadap program nuklir Iran pada Juni.
Trump menegaskan AS akan kembali bertindak jika Iran melanjutkan program nuklirnya pasca-serangan tersebut.
“Jika mereka mencoba melakukannya lagi, mereka harus pindah ke lokasi lain. Kami akan menyerang mereka di sana juga, sama mudahnya,” kata Trump.
Iran juga diwajibkan melaporkan kepada badan pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mengenai kondisi lokasi-lokasi yang diserang AS serta keberadaan material nuklir yang tersimpan di sana.
Termasuk di antaranya sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60%, yang jika diperkaya lebih lanjut berpotensi cukup untuk membuat sekitar 10 bom nuklir, berdasarkan standar IAEA.
Namun, IAEA belum dapat memverifikasi stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran selama setidaknya tujuh bulan terakhir, padahal verifikasi idealnya dilakukan setiap bulan.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi US$ 5.400: Investor Siap Raup Cuan Gila?
Protes di Iran
Belum jelas apakah gelombang protes di Iran akan kembali meningkat. Aksi protes bermula pada 28 Desember dari demonstrasi kecil di Grand Bazaar, Teheran, akibat tekanan ekonomi, lalu dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah di Iran.
Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, menyatakan telah memverifikasi 4.519 kematian terkait kerusuhan, termasuk 4.251 demonstran, serta masih meninjau 9.049 kematian lainnya.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas yang telah dikonfirmasi hingga Minggu mencapai lebih dari 5.000 orang, termasuk sekitar 500 anggota aparat keamanan.
Ketika ditanya mengenai jumlah demonstran yang tewas, Trump mengatakan, “Tidak ada yang tahu… jumlahnya banyak, apa pun itu.”












