Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan sebuah “armada” militer ke arah Iran.
Namun, ia berharap pengerahan tersebut tidak perlu digunakan. Pernyataan itu disampaikan Trump sembari kembali memperingatkan Teheran agar tidak membunuh para demonstran atau melanjutkan kembali program nuklirnya.
Sejumlah pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama beberapa kapal perusak berpeluru kendali akan tiba di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan.
Baca Juga: Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terburuk (23/1), Yen Tertekan Jelang Keputusan BoJ
Salah satu pejabat menyebutkan, AS juga mempertimbangkan penempatan tambahan sistem pertahanan udara di Timur Tengah.
Langkah ini dinilai penting untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut dari potensi serangan Iran.
Pengerahan kekuatan militer ini memperluas opsi yang dimiliki Trump, baik untuk memperkuat pertahanan pasukan AS di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, maupun untuk mengambil langkah militer tambahan setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
“Kami memiliki banyak kapal yang bergerak ke arah sana, untuk berjaga-jaga. Saya lebih memilih tidak melihat apa pun terjadi, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat ketat,” kata Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One, dalam perjalanan pulang ke Amerika Serikat usai menghadiri pertemuan para pemimpin dunia di Davos, Swiss.
Dalam kesempatan lain, Trump menegaskan, “Kami memiliki sebuah armada yang bergerak ke arah itu, dan mungkin kami tidak perlu menggunakannya.”
Baca Juga: Ringgit Malaysia Perkasa atas Dolar AS, Ini yang Jadi Pendongkraknya
Kapal-kapal perang tersebut mulai bergerak dari kawasan Asia-Pasifik sejak pekan lalu, seiring melonjaknya ketegangan antara Iran dan AS setelah tindakan keras pemerintah Iran terhadap gelombang protes dalam beberapa bulan terakhir.
Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap Iran terkait pembunuhan para demonstran. Namun, aksi protes dilaporkan mereda pekan lalu.
Trump juga sempat melunakkan retorikanya dengan mengklaim telah menghentikan eksekusi terhadap para tahanan di Iran.
Klaim itu kembali diulang Trump pada Kamis, dengan menyebut Iran membatalkan hampir 840 hukuman gantung setelah ancaman yang ia lontarkan.
“Saya mengatakan, ‘Jika Anda menggantung orang-orang itu, Anda akan dipukul lebih keras dari sebelumnya. Itu akan membuat apa yang kami lakukan terhadap program nuklir Iran terlihat seperti hal sepele,’” ujar Trump.
“Sekitar satu jam sebelum hal mengerikan itu terjadi, mereka membatalkannya,” tambahnya, seraya menyebut hal tersebut sebagai “tanda yang baik”.
Baca Juga: Volvo ES90 Luncurkan 'Selamat', Strategi Unik di Tengah Banjir EV Baru
Militer AS memang kerap meningkatkan kehadiran pasukan di Timur Tengah pada saat ketegangan meningkat, yang umumnya bersifat defensif.
Namun, pada tahun lalu, AS melakukan pengerahan besar-besaran menjelang serangan terhadap program nuklir Iran pada Juni.
Trump menegaskan AS akan kembali bertindak jika Iran melanjutkan program nuklirnya pasca-serangan tersebut.
“Jika mereka mencoba melakukannya lagi, mereka harus pindah ke lokasi lain. Kami akan menyerang mereka di sana juga, sama mudahnya,” kata Trump.
Iran juga diwajibkan melaporkan kepada badan pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), mengenai kondisi lokasi-lokasi yang diserang AS serta keberadaan material nuklir yang tersimpan di sana.
Termasuk di antaranya sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat 60%, yang jika diperkaya lebih lanjut berpotensi cukup untuk membuat sekitar 10 bom nuklir, berdasarkan standar IAEA.
Namun, IAEA belum dapat memverifikasi stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran selama setidaknya tujuh bulan terakhir, padahal verifikasi idealnya dilakukan setiap bulan.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi US$ 5.400: Investor Siap Raup Cuan Gila?
Protes di Iran
Belum jelas apakah gelombang protes di Iran akan kembali meningkat. Aksi protes bermula pada 28 Desember dari demonstrasi kecil di Grand Bazaar, Teheran, akibat tekanan ekonomi, lalu dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah di Iran.
Kelompok pemantau HAM berbasis di AS, HRANA, menyatakan telah memverifikasi 4.519 kematian terkait kerusuhan, termasuk 4.251 demonstran, serta masih meninjau 9.049 kematian lainnya.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa jumlah korban tewas yang telah dikonfirmasi hingga Minggu mencapai lebih dari 5.000 orang, termasuk sekitar 500 anggota aparat keamanan.
Ketika ditanya mengenai jumlah demonstran yang tewas, Trump mengatakan, “Tidak ada yang tahu… jumlahnya banyak, apa pun itu.”













