Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Badan PBB untuk anak-anak UNICEF menyatakan lebih dari 100 anak tewas di Jalur Gaza sejak diberlakukannya gencatan senjata pada Oktober lalu, meskipun intensitas pertempuran dilaporkan menurun.
Juru bicara UNICEF James Elder mengatakan bahwa korban tewas tersebut mencakup anak-anak yang menjadi korban serangan udara, drone, quadcopter, tembakan senjata api, hingga tembakan tank.
Baca Juga: Trump Ancam Tarif 25% untuk Negara yang Berbisnis dengan Iran
“Lebih dari 100 anak telah tewas di Gaza sejak gencatan senjata awal Oktober,” kata Elder dalam pengarahan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui sambungan video dari Gaza, Selasa (13/1/2026).
Ia menegaskan bahwa kondisi keselamatan anak-anak di Gaza masih sangat rapuh, meskipun frekuensi pengeboman dan penembakan berkurang.
“Kelangsungan hidup masih bersifat kondisional. Walaupun pengeboman dan penembakan melambat selama gencatan senjata, kekerasan itu belum sepenuhnya berhenti,” ujarnya.
Menurut UNICEF, dari total korban, sekitar 60 anak laki-laki dan 40 anak perempuan meninggal dunia akibat serangan militer langsung, termasuk serangan udara, serangan drone, tembakan tank, dan tembakan senjata ringan.
Sebagian kecil korban lainnya tewas akibat sisa-sisa bahan peledak perang yang meledak.
Baca Juga: Tarif 25% AS Mengintai! 6 Negara Ini Paling Rentan Dampak Sanksi Iran
UNICEF menekankan bahwa angka tersebut kemungkinan masih di bawah jumlah sebenarnya, karena hanya mencakup kasus kematian yang memiliki data dan verifikasi memadai.
“Jumlah ini sangat mungkin merupakan perkiraan yang lebih rendah dari kondisi sebenarnya,” kata Elder.
UNICEF kembali menyerukan kepada semua pihak untuk melindungi anak-anak dan warga sipil, serta memastikan gencatan senjata benar-benar dihormati guna mencegah jatuhnya korban lebih lanjut.













