kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45891,58   -16,96   -1.87%
  • EMAS1.358.000 -0,37%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Wamenkeu Thailand: Ekonomi Thailand Dalam Bahaya, Semacam Resesi


Senin, 29 Januari 2024 / 15:24 WIB
Wamenkeu Thailand: Ekonomi Thailand Dalam Bahaya, Semacam Resesi
ILUSTRASI. Wakil Menteri Keuangan Thailand Julapun Amornvivat mengatakan, ekonomi Thailand berada dalam resesi karena tingginya tingkat utang rumah tangga.


Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Perekonomian Thailand dalam bahaya. Wakil Menteri Keuangan Thailand Julapun Amornvivat mengatakan, ekonomi Thailand berada dalam resesi karena tingginya tingkat utang rumah tangga.

Ini meningkatkan tekanan pada bank sentral Thailand untuk menurunkan suku bunga.

Julapun juga mengatakan pemerintah berkomitmen melaksanakan rencana pemberian dana sebesar 500 miliar baht atau setara US$ 14 miliar yang akan ditransfer masing-masing sebesar 10.000 baht atau US$ 281 kepada 50 juta warga Thailand. Ia berharap, penundaan dalam peluncuran program ini tidak akan lama.

Dia mengatakan kebijakan suku bunga Thailand, yang berada pada tingkat tertinggi dalam satu dekade sebesar 2,50%, harus diturunkan pada tinjauan kebijakan bank sentral berikutnya pada tanggal 7 Februari untuk membantu menurunkan biaya pinjaman yang tinggi.

“Angka tersebut harus diturunkan karena tingginya tarif sekarang menjadi beban masyarakat. Masyarakat tidak dapat bertahan hidup,” katanya seperti dikutip Reuters, Senin (29/1).

Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin juga mendesak bank sentral menurunkan suku bunga untuk membantu negara dengan perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara yang sedang mengalami krisis.

Baca Juga: Selangkah Lagi Malaysia dan China di Tahap Akhir Kesepakatan Durian, Apa Itu?

Gubernur Bank Sentral Thailand Sethaput Suthiwartnarueput, yang mendapat kecaman dari perdana menteri karena tidak menurunkan suku bunga meskipun inflasi negatif, mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa pertumbuhan ekonomi lebih lambat dari perkiraan namun perekonomian tidak berada dalam krisis.

Sethaput mengatakan kebijakan suku bunga saat ini "secara umum netral".

Bank sentral mempertahankan suku bunga sebesar 2,50% pada pertemuan suku bunga terakhirnya di bulan November 2023, setelah menaikkannya sebesar 200 basis poin sejak Agustus 2022 untuk mengendalikan inflasi.

Pemerintah Thailand pekan lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2024 untuk negara dengan perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara ini menjadi 2,8% dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,2% karena melemahnya ekspor dan menurunnya jumlah wisatawan asing.

Pemerintah Thailand juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2023 menjadi 1,8% dari 2,7%, di bawah pertumbuhan tahun 2022 sebesar 2,6%.

Produk domestik bruto (PDB) resmi Thailand tahun 2023 akan dirilis oleh badan perencanaan tersebut pada 19 Februari.

“Kalau ditanya, sekarang sudah pada level berbahaya. Semacam resesi ekonomi,” kata Julapun seraya menambahkan situasi tersebut didorong oleh tingginya beban utang rumah tangga dan sektor swasta.

“Sulit untuk mendorong perekonomian maju. Itu sebabnya kita melihat pertumbuhan ekonomi selalu lamban," imbuhnya.

Baca Juga: Tiongkok dan Thailand Menandatangani Perjanjian Bebas Visa

Julapun juga mengatakan Thailand berencana menerbitkan obligasi di luar negeri dalam satu atau dua tahun ke depan dalam dolar, yuan dan yen untuk menciptakan tolok ukur bagi dunia usaha untuk mengumpulkan dana.

Dia mengatakan akan ada penjualan obligasi tabungan pemerintah senilai sekitar 100 miliar baht atau US$ 2,8 miliar pada tahun fiskal 2024, dengan batch pertama sebesar 40 miliar baht pada bulan Maret.




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×