Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SEOUL/BEIJING. Presiden China Xi Jinping menegaskan hubungan antara China dan Korea Utara telah memasuki "titik awal sejarah yang baru" saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Pyongyang pada Senin (8/6/2026).
Kunjungan ini menjadi sorotan internasional karena merupakan lawatan pertama Xi ke Korea Utara dalam tujuh tahun terakhir sekaligus perjalanan luar negeri pertamanya pada tahun ini.
Pernyataan Xi dipublikasikan melalui surat kabar resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, menjelang pertemuannya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dalam pesannya, Xi menegaskan komitmen Beijing untuk terus memperkuat hubungan bilateral dengan negara tetangganya tersebut.
"Kita harus menentang hegemoni, otoritarianisme, serta segala upaya dan konspirasi untuk menghidupkan kembali militerisme yang membahayakan keamanan dan stabilitas kawasan," ujar Xi.
Menurut Xi, kebijakan China terhadap Korea Utara tetap konsisten, yakni terus mengembangkan hubungan bilateral dan memperkuat pertukaran di berbagai bidang. Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Beijing mempererat hubungan dengan Pyongyang di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Sambutan Meriah di Pyongyang
Xi tiba di Pyongyang dan disambut langsung oleh Kim Jong Un bersama istrinya, Ri Sol Ju. Media pemerintah China menayangkan prosesi penyambutan karpet merah yang diiringi pasukan kehormatan serta anak-anak yang menyerahkan rangkaian bunga.
Baca Juga: Prancis Hadapi Krisis Demografi, Populasi Mulai Menurun Setelah 2037
Upacara penyambutan berlangsung di Lapangan Kim Il Sung, lokasi yang selama ini menjadi pusat parade militer dan perayaan kenegaraan Korea Utara. Band militer memainkan lagu kebangsaan kedua negara, sementara tembakan penghormatan 21 kali dilepaskan sebagai bagian dari seremoni kenegaraan.
Menurut kantor berita resmi China, Xinhua, ribuan warga yang memadati lokasi acara meneriakkan slogan-slogan dukungan dan melepaskan balon warna-warni di bawah potret besar kedua pemimpin.
Pertemuan Xi-Kim Dinilai Strategis
Xi dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan Kim Jong Un selama kunjungan dua hari tersebut. Pertemuan ini dinilai penting karena berlangsung ketika posisi Korea Utara dinilai semakin kuat berkat meningkatnya hubungan perdagangan dan kerja sama militer dengan Rusia.
Peneliti senior China di Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, mengatakan pertemuan Xi dan Kim menunjukkan bahwa Beijing masih memandang Pyongyang sebagai aset strategis.
"KTT Xi-Kim merupakan pengingat bahwa Beijing masih melihat Pyongyang sebagai aset strategis," kata Singleton.
Ia menambahkan bahwa China, Korea Utara, Rusia, dan Iran memiliki kepentingan yang sama dalam membatasi pengaruh Amerika Serikat dan melemahkan jaringan aliansinya.
Dalam pernyataannya, Xi juga berjanji akan bekerja sama dengan Korea Utara untuk mendorong multilateralisme yang adil dan teratur serta globalisasi ekonomi yang inklusif. Menurutnya, perdamaian dan stabilitas jangka panjang di kawasan merupakan tujuan bersama kedua negara.
Baca Juga: Perang Iran Dorong Harga Avtur Naik, Permintaan Jet Pribadi Justru Meningkat Tajam
Sementara itu, John Delury, peneliti senior Asia Society, menilai kunjungan Xi bertujuan mempertahankan tradisi hubungan erat kedua negara meski kondisi geopolitik saat ini sangat berbeda dibanding kunjungan sebelumnya.
"Kunjungan ini bertujuan menjaga tradisi tetap hidup dalam kondisi yang sangat berbeda dibanding perjalanan terakhirnya," ujar Delury.
Hubungan China-Korea Utara Kian Intensif
Rekaman video yang dirilis Xinhua menunjukkan jalan-jalan utama di Pyongyang dipenuhi bendera China dan Korea Utara. Dalam kunjungan tersebut, Xi didampingi istrinya Peng Liyuan, Kepala Staf Cai Qi, dan Menteri Luar Negeri Wang Yi.
Hubungan kedua negara terus meningkat setelah Korea Utara kembali membuka aktivitas lintas batas dengan China pascapandemi COVID-19. Maskapai Air China juga telah kembali membuka penerbangan langsung antara Beijing dan Pyongyang sejak Maret lalu.
Menurut Sydney Seiler dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), semakin eratnya hubungan Korea Utara dengan Rusia dan China berpotensi memperpanjang kemampuan Kim Jong Un untuk mengabaikan tekanan diplomatik dari Amerika Serikat dan Korea Selatan.
"Keberlanjutan hubungan yang semakin baik antara Korea Utara-Rusia dan meningkatnya hubungan Korea Utara-China dapat memengaruhi berapa lama Kim mampu terus mengabaikan Washington dan Seoul," kata Seiler.
Baca Juga: Industri Penerbangan Global Pangkas Proyeksi Laba 2026 Akibat Konflik Timur Tengah
Korea Utara Pamer Kekuatan Militer dan Nuklir
Menjelang kedatangan Xi, Korea Utara juga menunjukkan kekuatan militernya dengan mengumumkan rencana pembangunan kapal perusak angkatan laut berbobot 10.000 ton serta kembali menegaskan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
Lembaga penelitian keamanan internasional Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyebut Korea Utara saat ini diperkirakan memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir, meningkat dari sekitar 50 hulu ledak pada tahun sebelumnya.
SIPRI juga memperkirakan Pyongyang terus meningkatkan produksi material fisil yang dapat digunakan untuk membuat setidaknya 30 hulu ledak nuklir tambahan.













