kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.735   -18,00   -0,10%
  • IDX 6.567   41,50   0,64%
  • KOMPAS100 860   8,77   1,03%
  • LQ45 652   7,72   1,20%
  • ISSI 229   0,32   0,14%
  • IDX30 365   4,39   1,22%
  • IDXHIDIV20 449   5,78   1,31%
  • IDX80 98   1,04   1,07%
  • IDXV30 125   0,53   0,42%
  • IDXQ30 116   1,50   1,31%

Yen Nyaris Tembus 160, Harapan BOJ Naikkan Bunga Kembali Menguat


Selasa, 01 September 2026 / 08:49 WIB
Yen Nyaris Tembus 160, Harapan BOJ Naikkan Bunga Kembali Menguat
ILUSTRASI. Yen Jepang - Dolar AS (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang bertahan di sekitar level 160 per dolar AS pada Selasa (1/9/2026). Pergerakan yen dipengaruhi meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) serta ketidakpastian akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.

Mengutip Reuters, yen berada di level 159,81 per dolar AS setelah dalam dua sesi perdagangan sebelumnya sempat melemah menembus level 160.

Baca Juga: Belanja Modal Perusahaan Jepang Naik 1,6%, Peluang BOJ Naikkan Bunga Menguat

Yen menguat setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menyampaikan keyakinannya bahwa pemerintah Jepang dan BOJ akan mengambil langkah yang dapat mendorong penguatan yen.

"Saya memiliki informasi yang tidak dimiliki pasar, dan saya percaya bahwa pemerintah Jepang dan BOJ akan melakukan hal-hal yang akan mengarah pada yen yang lebih kuat," kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC di sela-sela pertemuan para pemimpin keuangan G20.

Pasar kini memperkirakan peluang BOJ menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan September mencapai 73%.

Namun, sejumlah analis menilai kenaikan suku bunga pada September saja belum cukup untuk mengubah tren yen secara berkelanjutan.

"Untuk yen, kenaikan suku bunga BOJ pada September sudah sangat diantisipasi. Dengan imbal hasil AS yang masih tinggi dan kenaikan harga minyak yang memperburuk terms of trade Jepang, yen kemungkinan membutuhkan jalur kebijakan BOJ yang lebih hawkish setelah September, bukan hanya satu kali kenaikan suku bunga, agar dapat menjauh secara berkelanjutan dari level 160," ujar Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo.

Baca Juga: Manufaktur Korea Selatan Ekspansi 9 Bulan, Ekspor Jadi Penopang

Sebelumnya, intervensi bersama AS dan Jepang pada akhir Juli sempat memberikan dorongan terhadap yen. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan yen kembali kehilangan sebagian besar kenaikannya.

Dolar AS Tertekan

Di sisi lain, dolar AS bergerak melemah setelah menguat pada perdagangan Jumat. Investor masih mencermati meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September menyusul pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.

Indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, turun ke level 99,37.

Baca Juga: China Murka Taiwan Hadiri Forum Pasifik, Peringatkan Bakal Ada Konsekuensi

Sementara itu, euro relatif stabil di US$ 1,1623 setelah menguat hampir 1% sepanjang Agustus. Pound sterling berada di US$ 1,35575 setelah naik 0,5% pada bulan lalu.

Dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole, Warsh mengatakan The Fed masih perlu mengambil langkah jika inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan menuju target bank sentral sebesar 2%.

Pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 65%, naik dari 41% sepekan sebelumnya.

"Yang menarik, kenaikan harga minyak dan imbal hasil Treasury gagal mendukung dolar AS," kata Carol Kong, Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia.

Menurut dia, pelemahan dolar AS kemungkinan mencerminkan penilaian ulang pasar terhadap apakah sikap hawkish Warsh cukup untuk memulihkan kredibilitas The Fed. Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ pada September juga turut menekan dolar AS.

Baca Juga: Minyak Brent Kembali ke Atas US$ 91 Selasa (1/9), Konflik AS-Iran Jadi Pemicu

Investor selanjutnya akan mencermati serangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Data tersebut diperkirakan menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga pada September.

Di pasar valuta asing lainnya, dolar Australia sedikit menguat ke US$ 0,7172, sedangkan dolar Selandia Baru berada di US$ 0,5921.




TERBARU

[X]
×