Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Mata uang China, yuan menguat mendekati level tertinggi dalam hampir tiga tahun terhadap dolar AS pada Rabu (6/5/2026), didorong oleh harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta data ekonomi domestik yang menunjukkan ketahanan.
Melansir Reuters, di pasar onshore, yuan diperdagangkan di kisaran 6,8200 per dolar AS pada pukul 03.00 GMT, atau menguat sekitar 0,15% dibandingkan penutupan pada 30 April lalu, sebelum libur panjang di China.
Baca Juga: Demam AI Dorong Bursa Korea Menggila, Samsung Tembus Kapitalisasi US$ 1 Triliun
Sebelum pembukaan pasar, bank sentral China menetapkan kurs tengah (fixing) di level 6,8562 per dolar AS, yang merupakan posisi terkuat sejak Maret 2023.
Penguatan yuan juga sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS, setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran dan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Sentimen positif terhadap yuan turut didukung oleh data aktivitas sektor jasa China yang meningkat pada April, serta data konsumsi selama libur yang dinilai cukup kuat.
“Dinamika ekonomi selama periode libur dan ketahanan konsumsi domestik menjadi fondasi kuat bagi penguatan yuan,” tulis Nanhua Futures dalam laporannya.
Baca Juga: Menlu China Bertemu Menlu Iran di Beijing, Bahas Konflik Selat Hormuz
Meski demikian, pelaku pasar memperingatkan potensi volatilitas ke depan masih tinggi. Ketidakpastian terkait konflik Timur Tengah dan arah kebijakan moneter bank sentral AS tetap menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada rencana kunjungan Presiden Trump ke Beijing pada 14–15 Mei untuk bertemu Presiden China Xi Jinping.
Huatai Futures memperkirakan yuan akan bergerak di kisaran 6,80–6,90 per dolar AS sepanjang Mei, dengan pergerakan yang dipengaruhi dinamika geopolitik, kebijakan Federal Reserve, serta sentimen hubungan dagang China-AS.
Sejumlah tanda ketegangan juga mulai muncul menjelang pertemuan tersebut. China baru-baru ini memperkenalkan aturan perdagangan baru yang memicu kekhawatiran pelaku usaha AS.
Baca Juga: Bank Sentral Vietnam Pertahankan Target Inflasi 4,5% Meski Tekanan Harga Meningkat
Sementara pejabat Washington mengindikasikan kemungkinan pengetatan pembatasan perjalanan terhadap China.
“Pertemuan puncak China-AS berpotensi memicu fluktuasi sentimen di pasar yuan,” tulis Huatai Futures













